Kenapa Gue Memutuskan untuk Pindah Ke Jepang

“Gue khawatir aja sama lo,” Kata salah satu temen deket gw pas kita lagi dinner cantik. “Ibarat lo itu bunga nih ya. Si Tomo itu kayak nyabut lo dari hidup lo di taman, buat dibawa dan ditaroh di pot bunga. Udah bagus-bagus sehat bertumbuh di taman, mau dicabut dan dibawa jauh-jauh ke Jepang.” Gw ketawa aja deh dengernya.

Apa yang temen gue bilang itu bener. Di Jakarta, saat ini, gue cewek mandiri yang punya penghasilan stabil. Nggak banyak hal yang nggak bisa gw lakukan sendirian. Istilahnya, ini wilayah gue.

Sementara nanti setelah gw pindah ke Jepang, gw akan jadi nggak punya penghasilan, gw harus adaptasi budaya dan lingkungan, gw nggak tau tempat, gw harus adaptasi bahasa, makanannya juga berbeda dengan makanan Indo, gw harus cari teman baru, dsb. Singkatnya, Jepang itu bukan (atau belum) wilayah gue.

Ya gw memang jadi kayak ikan yang harus belajar jalan di tanah kering. 😀

Pembicaraan gw sama temen gw itu nggak gw ceritain ke Tomokun. Gw simpen aja dalam hati gw sendiri karena buat bahan renungan gw sendiri aja.

Nah secara kebetulan, beberapa hari yang lalu Tomokun cerita kalo temennya Tomokun bilang Tomokun egois. Alasannya sama dengan alasan yang temen gue sebutkan di awal tulisan ini. Gw akan struggle cukup berat dengan kehidupan di negeri asing. Plus gue akan bergantung secara finansial pada orang lain, sesuatu yang gw nggak pernah lakukan semenjak gw punya penghasilan sendiri. Belum lagi, gw harus menghadapi kejamnya prejudis orang Jepang terhadap perempuan South East Asia, yang pernah gw bahas di beberapa post sebelum ini.

Terus Tomokun bilang, “I think I know what your answer is gonna be, but I want to hear you say it. Do you think I’m selfish?”

 

Di Negara Asalnya, Pasangan bisa Support dengan Lebih Baik

Sebagai WNA, bermukim di Indonesia bikin Tomokun jadi ibarat macan yang taringnya dipotong. Banyak hal akan menjadi sangat terbatas, misalnya kesempatan kerja dan pemasukan, pengurusan kependudukan, properti, kestabilan hidup dia, status imigrasi, dannnnn lain sebagainya.

Sebagai pemimpin dalam hubungan, dia harus bisa pegang kendali lebih besar dan tidak banyak keterbatasan. Karena itu keputusan untuk pindah ke Jepang justru adalah tindakan yang bertanggung jawab. Di Jepang, kesempatan kerja Tomokun lebih besar, pemasukan juga lebih besar dan lebih stabil, status imigrasi tidak perlu diragukan karena sistem hukum juga semua sudah jelas.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, jelas lebih mudah untuk dia (kalau dia mau berfungsi sebagai kepala keluarga) untuk mendukung hidup gw di Jepang daripada kalo di Indonesia. Menurut gw, keputusan dia supaya kami menetap di Jepang meski memang akan ada setback yang bikin gw harus struggle di awal, tapi benefit-nya akan lebih besar daripada cost-nya dalam jangka panjang.

 

Spouse Visa Indonesia vs Spouse Visa Jepang

WNA pemegang spouse visa Indonesia (alias ITAS / ITAP sponsor istri) boleh bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Tapi tidak dalam rangka memperkaya diri. Karena itu WNA yang menetap di Indonesia dengan ITAS / ITAP sponsor istri banyak yang berakhir buka toko kecil-kecilan, rumah makan, bengkel, gerai seni, dan lain sebagainya yang profitnya tidak banyak. Bahkan nggak sedikit yang bekerja secara ilegal, atau bahkan menganggur.

Kenapa nggak pada kerja kantoran aja? Jadi manager, direktur, atau bahkan presiden perusahaan? Karena ada keketapan Undang-Undang yang membatasi. WNA yang ingin bekerja di perusahaan, harus mengantongi ijin kerja yang terpisah (bukan sponsor istri) tapi sponsor perusahaan. Itupun perusahaannya harus dapat ijin dari Kementrian.

UU No. 13 tahun 2003 – Tentang Ketenagakerjaan

BAB VIII
PENGGUNAAN TENAGA KERJA ASING
Pasal 42

  1. Setiap pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja asing wajib memiliki izin tertulis dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk.
  2. Pemberi kerja orang perseorangan dilarang mempekerjakan tenaga kerja asing.
  3. Kewajiban memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), tidak berlaku bagi perwakilan negara asing yang mempergunakan tenaga kerja asing sebagai pegawai diplomatik dan konsuler.
  4. Tenaga kerja asing dapat dipekerjakan di Indonesia hanya dalam hubungan kerja untuk jabatan tertentu dan waktu tertentu.
  5. Ketentuan mengenai jabatan tertentu dan waktu tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) ditetapkan dengan Keputusan Menteri.
  6. Tenaga kerja asing sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) yang masa kerjanya habis dan tidak dapat di perpanjang dapat digantikan oleh tenaga kerja asing lainnya.

Itu baru soal pekerjaan. Belom lagi soal kepemilikan properti kalau nggak punya prenup, lebih ribet lagi. (Baca juga: Pro Kontra Prenup Sebelum Menikah dengan WNA)

Nah. Di lain pihak, spouse visa Jepang memungkinkan gw untuk sekolah, bekerja, dan lain sebagainya dengan bebas layaknya WN Jepang sendiri.

Ya menurut lo aja deh.

 

Bahasa Indonesia vs 日本語

Gw sudah mulai belajar Bahasa Jepang sejak gw mulai hubungan dengan Tomokun. Bukan hanya demi hubungan gw sama Tomokun, gw belajar bahasa Jepang karena pada dasarnya gw memang suka belajar bahasa. Bahkan kegiatan move on gw dari mantan tunangan yang dulu, salah satunya adalah les bahasa.

Meski ketika awal-awal hubungan gw belajarnya hanya seminggu sekali (sekarang seminggu dua kali), gw sudah ngabisin buku Minna No Nihongo 1 dan 2. Sekarang gw sudah pake Minna No Nihonggo yang tingkat menengah.

Gw sangat yakin tanpa keraguan sedikitpun, bahwa gw akan bisa lancar berbahasa Jepang seperti gw lancar berbahasa Inggris.

Di lain pihak, Tomokun tidak punya passion yang sama terhadap belajar bahasa in general, dan belajar bahasa Indonesia pada khususnya. Dia bisa sedikit bahasa Indonesia, secara dia pernah tinggal di Indonesia cukup lama. Dia ngerti makanan dan arah jalan dan beberapa hal lain, tapi nggak fasih dan memang nggak berusaha ingin fasih anyway.

Ya lebih baik gw yang belajar bahasa Jepang aja deh daripada Tomokun yang belajar bahasa Indo. Toh gw suka juga belajar bahasa, kan.


 

Dari ketiga point tersebut: Keleluasaan support dari kepala keluarga, status visa, serta bahasa, gw memutuskan bahwa pindah ke Jepang memang lebih baik daripada stay di Indonesia.

Gw merasa gw adalah ikan yang sudah siap keluar dari kolam dan belajar jalan di daratan. Meski gw mungkin bakal kangen sama dedaonan yg warnanya ijo sepanjang tahun. Meski gw mungkin akan kangen sambel dan iga penyet dan sayur asem. Meski temen gue bilang gue bunga yang dicabut dari taman buat ditaroh di pot bunga.

I believe in myself and my partner, we can handle it. If we’re together, we’ll be okay. As long as it’s him, I’ll be fine.

I made up my mind. I’m moving out soon.

 

“You know you have all my support.”

“I know.”

Yokohama

Yokohama, 3 Januari 2018. Taken by RedZzdeLady.

Di Balik Romatisme Berpacaran dengan Orang Jepang

Semenjak post tentang Pengalaman Pacaran dengan Orang Jepang jadi salah satu post yang paling banyak dibaca di blog ini, saya merasa ada penyesalan tersendiri. Soalnya, postingan tersebut sepertinya bikin orang-orang jadi lebih meromantisasi hubungan pacaran Indo-Jepang, yang padahal nggak semudah itu dijalankan.

Beberapa komentar atau PM atau DM atau japri yang saya terima gara-gara post tersebut bikin saya mengerutkan alis dalam-dalam. Jumlah orang yang mengira “pacaran dengan orang Jepang” itu selalu manis-manis saja seperti yang dalam postingan Redz, pasti masih mabuk cinta. Belum ketampol sama reality.

 

Pandangan orang Jepang terhadap pasangan Interracial

Salah satu resistensi yang saya terima dalam hubungan saya dengan WNA Jepang adalah pandangan lingkungan Jepang terhadap hubungan mixed-race. Suka tidak suka, ketika kita menjalin hubungan dengan seseorang, seringkali “isinya” tidak cuma dua orang saja. Ada juga keluarga kita dan keluarga pasangan, ada teman-teman, bahkan hingga tetangga.

Lingkungan Indonesia sih sudah terkenal kepo ya, ada tante saya yang bahkan terang-terangan bilang sama saya untuk hati-hati. Katanya, “Kalau ML dengan orang Jepang nanti diiket-iket dan ditetesin lilin”. Entah beliau habis nonton film apa.

Lingkungan Jepang juga sebetulnya tidak kalah kepo. Meski mungkin tidak ditunjukkan secara terang-terangan, tapi secara umum pandangan mereka negatif terhadap mixed-race.

Gaijin (sebutan dalam bahasa Jepang untuk orang non-Jepang) seringkali dianggap tidak bisa meneruskan pendidikan budaya Jepang pada keturunan mereka nantinya. Which might be true. Kita adalah pendatang, yang mungkin tidak mengerti banyak mengenai budaya Jepang. Bahkan kalaupun kita mengerti, apakah pendidikan kita selama ini memungkinkan kita untuk sepenuhnya menjalankan norma dan nilai nilai budaya Jepang?

Sebagai masyarakat yang sangat cinta akan budaya mereka sendiri, hal ini cukup krusial bagi orang Jepang. Itulah salah satu alasan mengapa mereka tidak terlalu suka hubungan antara orang Jepang dengan gaijin.

Tapi ada hal yang lebih parah lagi dari itu, yaitu anggapan mereka terhadap perempuan Asia Tenggara secara khususnya. Perempuan dari Asia Tenggara seakan mendapatkan pandangan / stereotip yang khusus.

 

Pandangan orang Jepang terhadap Perempuan Indonesia dan Asia Tenggara

Sebetulnya prejudis seperti ini terbentuk pastinya bukan hanya berdasarkan satu dua kasus saja, tapi hasil dari kejadian yang berulang-ulang. Jadi anggapan masyarakat Jepang terhadap perempuan Asia Tenggara ini bukannya tidak berdasar. Mungkin malah, ada benarnya. Sebagai gambaran, saya akan ceritakan salah satu pasangan (nyata) Indonesia-Jepang yang pasangan saya temui di Jepang.

Lelaki Jepang berusia 50-an berpasangan dengan perempuan Indonesia berusia 20-an. Perempuan tersebut tidak bisa bahasa Jepang, dan lelaki tersebut tidak bisa bahasa Indonesia dengan lancar. Banyak dari komunikasi mereka dilakukan dengan bahasa tubuh. Perempuan tersebut sebelumnya bekerja di Indonesia sebagai pemandu karaoke. Mungkin di sanalah ia bertemu dengan lelaki itu. Si lelaki, karena sudah cukup berumur tapi belum menikah, dan tidak punya waktu untuk mencari pasangan dengan cara-cara umum, akhirnya memutuskan untuk menikahi perempuan pemandu karaoke ini saja.

Karena perempuan ini (maaf) kurang berpendidikan, jadi ia tidak mengerti tentang pengurusan surat-surat. Bahkan visa ke Jepang pun, sang lelaki di Jepang perlu menghubungi travel agent Indonesia dan membayar mahal agar mereka membantu mengurus tiket dan visa untuk perempuan tersebut. Perempuannya hanya terima jadinya aja. Ya untungnya sekarang proses itu sudah berakhir, dan mereka kini tinggal di Jepang. Tentu saja, si perempuan dibiayai penuh oleh suaminya itu. Si perempuan hanya perlu berada di rumah atau shopping dengan uang suaminya, selfie-selfie posting di social media, dan melahirkan anak nantinya.

Happy ending?

Bila Anda menganggap hal tersebut “happy ending”, mungkin Anda perlu mempertanyakan tujuan hidup Anda.

Tentu saja, tidak ada yang akan melarang Anda menjadi ibu rumah tangga. Malah, masalahnya bukan di situ. Masalahnya ada apabila Anda menjadi seorang entity yang sepenuhnya bergantung pada materi orang lain (meskipun itu suami Anda sendiri). Sementara Anda sendiri tidak berkembang secara manusia, tidak bertumbuh dan memperbaiki diri. Tidak berusaha menghormati budaya Jepang dan minimal mempelajari bahasanya, dan hanya berharap bisa terus bersandar pada harta suami.

Kurang lebih, itulah adalah gambaran yang cukup umum yang orang Jepang miliki tentang perempuan Indonesia dan Asia Tenggara.

Karena potret kondisi seperti itu bukan hanya terjadi sekali-dua kali saja, perempuan Indonesia, Filipina, Myanmar, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya jadi harus menanggung prejudis yang sama, meski tidak semua orang demikian.

 

Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Ketika Pacaran sama Orang Jepang?

  1. Jangan Meromantisasi Hubungan Inter-rasial. Hubungan dengan orang yang ras, bahasa, dan budayanya sama dengan kita pun seringkali bisa berantakan. APALAGI hubungan inter-rasial dengan orang yang ras, bahasa, dan budayanya berbeda dengan kita. Karena itu berhentilah beranggapan bahwa hubungan dengan WNA serta merta berarti hidup Anda sudah terjamin enaknya, Anda bisa tinggal ongkang ongkang kaki di rumah dan menghabiskan uang pasangan saja. Hubungan dengan orang Jepang tidak selalu seindah yang Anda pikirkan, karena orang Jepang kalau kentut bisa bau tai juga. Saya pernah membuat post lainnya tentang ini, kalau mau, silahkan dibaca-baca di link ini.
  2. Teruslah Mengembangkan Diri. Baik Anda tinggal di Indonesia maupun pergi ke Jepang, Anda perlu punya bekal untuk berkomunikasi dengan lebih baik. Baik dengan pasangan Anda, dengan teman-temannya, maupun dengan keluarga pasangan. Karena itu, mulailah belajar bahasa Jepang. Berhenti belajar hanya ketika Anda sudah mati, bukan ketika Anda stuck atau karena bahasa Jepang itu susah. Mau tau apa yang lebih susah dari belajar bahasa Jepang? Membina hubungan dengan orang Jepang sampai bisa berrumah tangga dan bahagia sampai tua. Jadi kalau belajar aja udah nyerah, lebih baik sekalian aja nyerah berpacaran dengan orang Jepang. Untuk apa berpacaran kalau berkomunikasi aja sulit dan nggak nyambung?
  3. Latih diri agar berpikir realistis. Hanya karena pasangan Anda membalas pesan Anda lama, bukan berarti semua lelaki Jepang pasti kalau membalas pesan selalu lama. Hanya karena pasangan Anda selalu minta dikirimkan foto telanjang, bukan berarti semua cowok Jepang pasti hidung belang. Hanya karena pasangan Anda adalah orang Jepang, bukan berarti pasangan Anda pasti punya semua kualitas baik, dan bukan berarti sudah pasti lebih superior dari orang Indonesia.
    Berhati-hatilah, jangan terlalu mengagung-agungkan ras pasangan sehingga menutup mata dari cikal bakal runtuhnya hubungan. Berpikirlah dengan realistis. Lelaki Jepang tidak semuanya baik. Yang baik ada, yang tidak baik juga ada. Lelaki Jepang yang me-reply dengan cepat ada, yang lambat juga ada. Yang sopan ada, yang mata keranjang juga ada.

Sebagai penutup, marilah kita bersama-sama mengingatkan diri kita bahwa hubungan itu nggak cukup hanya pakai cinta saja, tapi juga harus pakai otak. Pada akhirnya bila hubungan kita tidak bahagia, yang rugi adalah kita sendiri. Bila ingin membina hubungan yang baik dan mulus, ada baiknya kita juga menggunakan akal budi, bukan hanya emosi dan perasaan semata.

Semoga hubungan romansa Anda dan saya berjalan lancar tanpa banyak friksi yang berarti. 機会があったら、日本に会いましょう。

 


Ask Me Anything Anonymously
on Ask.FM (Click Here)