Cara PDKT sama Cowok Jepang

Yak. Gue cewek Indonesia, pacar gue cowok Jepang. Dan semenjak gue mulai pacaran sama cowok Jepang dan nulis tentang pengalaman gue di blog ini, cukup banyak orang yang tak dikenal yang mulai mendekat. Either hanya comment, atau ngajak kenalan, atau sampai nanya dan tjurhat. Which is fine aja sebenernya, gue seneng punya temen-temen yang pengalamannya serupa. Sama-sama cewek indonesia yang pacaran atau menikah sama cowok Jepang, yekan.

Tapi jujur aja gue gengges kalo dapet pertanyaan dari cewek-cewek yang emang sengaja pengen cari pacar cowok Jepang. Jadi nargetin untuk dapetin cowok Jepang. Yaaaaaaaaaa okelah fine kalo you memang nargetin begitu. Fine. OKE. FINE. Tapi at least baca ini dulu deh sebelum kita bahas lebih jauh tentang hubungan romansa sama cowok Jepang (atau cowok WNA lainnya).

Kalau udah baca, yuk kita bahas beberapa pertanyaan yang cukup sering gue dapetin dari orang yang pengen pacaran sama cowok Jepang, atau yang gebetannya adalah orang Jepang. Pertanyaan-pertanyaan ini sering bikin gue pengen garuk-garuk kepala pake kaki.

 

Cowok Jepang Sukanya Cewek yang Kayak Gimana?

Jawaban singkatnya: sama dengan cewek yang disukai oleh cowok Indonesia. Sama dengan cewek yang disukai oleh cowok Amerika. Sama dengan cewek yang disukai cowok manapun.

Ketertarikan cowok terhadap cewek itu nggak dikotak-kotakkan berdasarkan kewarganegaraan. Kadang malah nggak ada hubungannya antara ciri-ciri cewek yang disukai cowok, dengan kewarganegaraan cowok tersebut. Pada dasarnya, cowok di seluruh dunia sukanya cewek yang tipenya gitu-gitu aja: Brain, beauty, behavior. Atau, dengan kata lain dalam bahasa RedZz, cewek yang lovable.

Tapi satu hal yang pasti, cowok nggak akan suka kalau kamu melihat dia dari kewarganegaraannya duluan sebelum lihat kepribadiannya. Contohnya, kamu mendekati atau menyukai seseorang karena orang tersebut orang Jepang, bukan karena orang tersebut punya kualitas yang tinggi.

Dengan kata lain, jangan mentang-mentang dia orang Jepang maka kamu jadi otomatis suka sama dia. Mau dia orang dengan kewarganegaraan apapun, jangan baper duluan hanya karena dia bukan orang Indo. Tetap perlakukan dia seperti cowok pada umumnya, lepas dari kewarganegaraannya apa. Perlakukan dia sebagai manusia sesama penghuni bumi, itu udah cukup.

Baca juga: https://kelascinta.com/women/pacaran-dengan-pria-wna-tetap-pakai-akal-sehat biar nggak cepet baper hepi terkencing-kencing saat didekati pria WNA.

Sedikit tambahan notes. Salah satu hal yang Tomokun bilang dia suka tentang saya adalah karena saya bukan Japanese freak. Saya nggak gila anime dan terbawa arus gila Jpop dan lain-lain, dan sama sekali nggak mengerti budaya Jepang. Kata Tomokun, kalau saya penggila segala tentang Jepang, dia akan otomatis jadi ilfil.

Oke, pertanyaan selanjutnya!!

 

Gebetan gue orang Jepang, tapi dia cuek / kasar / porno / kaku banget. Apa iya semua cowok Jepang itu emang cuek / kasar / porno / kaku gitu?

Jadi berdasarkan pengalamanmu dengan satu orang Jepang, kamu mengambil kesimpulan bahwa semua cowok Jepang pasti sama dengan satu orang Jepang yang kamu temukan tersebut? Situ waras?

Jawabannya adalah, NGGAK, NGGAK SEMUA COWOK JEPANG SAMA SEPERTI GEBETAN KAMU ITU.

Sama seperti cowok Indonesia, ada yang cuek, ada yang kaku, ada yang kasar, ada yang supel, ada yang rese, ada yang hidung belang, ada yang ramah, ada yang taik, begitu pula cowok berkewarganegaraan lain selain Indonesia. Cowok Jepang ada juga kok yang nggak cuek. Cowok Jepang ada juga yang nggak kasar. Cowok Jepang ada juga yang nggak kaku. Ya. Nggak semua cowok di seantero negeri Jepang dan di seluruh dunia ini sama seperti satu gebetan kamu yang kebetulan kamu nemu tersebut.

Ketika gebetanmu si cowok Jepang tersebut ternyata suka minta foto telanjang kamu, atau suka minta kamu kirim video masturbasi, atau maksa minta keperawananmu atau maksa minta ML, ya JANGAN DIMAKLUMI. Jangan merasa, “Oh, mungkin dia begini karena kebudayaan Jepang sangat terbuka terhadap hal esek-esek kayak gini.” NO. DIA HENTAI KARENA DIA HENTAI. BUKAN KARENA DIA ORANG JEPANG.

Nggak semua cowok Jepang suka maksa minta ML atau maksa minta keperawanan, itu sih cowok yang kamu temuin itu aja yang eror. Nggak semua cowok Jepang suka minta dikirimin foto telanjang dll. Itu sih kamu aja yang kena zonk.

Sama juga dengan kalau kamu menemukan bahwa cowok Jepang gebetanmu ternyata suka mukul atau suka main kasar, sekali lagi, jangan dimaklumi.  Jangan merasa “Oh, mungkin dia kasar karena dia orang Jepang.” No. Dia kasar karena dia kasar, bukan karena dia orang Jepang. Karena nggak semua cowok Jepang suka mukul dan main kasar. OK?

Dan ini berlaku untuk sangat banyak hal lainnya. Dia pemabuk karena dia pemabuk, bukan karena dia orang Jepang. Dia kaku dan tidak ekspresif karena dia kaku dan tidak ekspresif, bukan karena dia orang Jepang. Dia nggak bayarin kamu makan karena dia nggak bayarin kamu makan, bukan karena dia orang Jepang. Paham ya?

Jadi, ketika kamu menemukan gebetanmu tidak sesuai dengan prinsip kamu, jangan turunkan standardmu. Naikkan kualitas koleksi gebetanmu. Misalnya gini, “Gue maunya orang Jepang, tapi yang di depan gue cuman ada cowok satu ini aja nih. Kendalanya, gue harus kirim foto sexy dulu baru dia mau chat sama gue.” YA JANGAN DITURUTIN ATUH YA CARI AJA COWOK LAIN EMANG COWOK DI DUNIA INI CUMAN DIA DOANG???

Ya kali cowok di dunia kamu cuma dia doang, makanya kamu terjebak dengan orang yang tidak sesuai dengan prinsip kamu. Jangan menjebak diri sendiri. Pertahankan standard kamu. Perluas pergaulan, dan coba cari warga negara lain. Nggak harus Jepang kan sebenernya.

OKE. Lanjut!!!

 

Gebetan gue cowok Jepang, tapi dia kalo bales WA gue lama banget. Apakah dia serius suka sama gue?

First of all. Mana saya tau dia serius apa nggak. Orang yang udah nikah masih nggak serius aja ada kok, apalagi yang baru gebetan dan baru di platform WhatsApp doang. Liat orang serius atau nggak itu bukan dari dia bales WA cepet apa kagak. Bahkan juga bukan dari “udah dikenalin ke orang tua” atau belum.

Liat orang serius itu dari effort yang dia keluarkan ketika menghadapi masalah dalam hubungan. Apakah dia mengeluarkan effort untuk menyelesaikan masalah dan mempererat hubungan dengan kamu atau nggak?

Contohnya aja, kalau kamu pacaran sama cowok Jepang, kamu akan perlu menghadapi rasisme. Kalau pasanganmu nggak melakukan effort nyata untuk membantu melewati kendala tersebut, ya berarti dia nggak serius. Gampang aja.

Baca juga https://redzzdelady.com/2017/09/28/di-balik-romatisme-berpacaran-dengan-orang-jepang/ untuk tau rasisme / pandangan lingkungan Jepang terhadap hubungan mixed-race.

Secondly, balas WA lama itu nggak ada hubungannya dengan dia cowok Jepang atau cowok Indo atau cowok Zimbabwe. Sekarang kita bisa lupakan dulu kewarganegaraan dan lepaskan gender. Cewek dan cowok sama aja dalam hal ini.

Gebetan balas WA lama bisa jadi karena dia sibuk, atau bisa juga karena dia nggak tertarik. Daripada kamu pusingin dia lama balas WA itu karena sibuk atau karena nggak tertarik, lebih baik kamu cari gebetan yang banyak aja biar kamu sibuk sama orang-orang menarik lainnya dan NGGAK NGAREP sama satu orang ini aja.

Multi Gebetan KelasCinta

 


 

Ooooookeh. Itu aja dulu, tiga pertanyaan yang paling sering orang tanyakan ke gue tentang pacaran sama orang Jepang. Lo punya pertanyaan lain yang belom gue jawab? Cus boleh tanya via kolom komentar, boleh juga tanya via ask FM.

Ask me anything anonymously through AskFM, click here.

See you around! ❤

Kenapa Gue Memutuskan untuk Pindah Ke Jepang

“Gue khawatir aja sama lo,” Kata salah satu temen deket gw pas kita lagi dinner cantik. “Ibarat lo itu bunga nih ya. Si Tomo itu kayak nyabut lo dari hidup lo di taman, buat dibawa dan ditaroh di pot bunga. Udah bagus-bagus sehat bertumbuh di taman, mau dicabut dan dibawa jauh-jauh ke Jepang.” Gw ketawa aja deh dengernya.

Apa yang temen gue bilang itu bener. Di Jakarta, saat ini, gue cewek mandiri yang punya penghasilan stabil. Nggak banyak hal yang nggak bisa gw lakukan sendirian. Istilahnya, ini wilayah gue.

Sementara nanti setelah gw pindah ke Jepang, gw akan jadi nggak punya penghasilan, gw harus adaptasi budaya dan lingkungan, gw nggak tau tempat, gw harus adaptasi bahasa, makanannya juga berbeda dengan makanan Indo, gw harus cari teman baru, dsb. Singkatnya, Jepang itu bukan (atau belum) wilayah gue.

Ya gw memang jadi kayak ikan yang harus belajar jalan di tanah kering. 😀

Pembicaraan gw sama temen gw itu nggak gw ceritain ke Tomokun. Gw simpen aja dalam hati gw sendiri karena buat bahan renungan gw sendiri aja.

Nah secara kebetulan, beberapa hari yang lalu Tomokun cerita kalo temennya Tomokun bilang Tomokun egois. Alasannya sama dengan alasan yang temen gue sebutkan di awal tulisan ini. Gw akan struggle cukup berat dengan kehidupan di negeri asing. Plus gue akan bergantung secara finansial pada orang lain, sesuatu yang gw nggak pernah lakukan semenjak gw punya penghasilan sendiri. Belum lagi, gw harus menghadapi kejamnya prejudis orang Jepang terhadap perempuan South East Asia, yang pernah gw bahas di beberapa post sebelum ini.

Terus Tomokun bilang, “I think I know what your answer is gonna be, but I want to hear you say it. Do you think I’m selfish?”

 

Di Negara Asalnya, Pasangan bisa Support dengan Lebih Baik

Sebagai WNA, bermukim di Indonesia bikin Tomokun jadi ibarat macan yang taringnya dipotong. Banyak hal akan menjadi sangat terbatas, misalnya kesempatan kerja dan pemasukan, pengurusan kependudukan, properti, kestabilan hidup dia, status imigrasi, dannnnn lain sebagainya.

Sebagai pemimpin dalam hubungan, dia harus bisa pegang kendali lebih besar dan tidak banyak keterbatasan. Karena itu keputusan untuk pindah ke Jepang justru adalah tindakan yang bertanggung jawab. Di Jepang, kesempatan kerja Tomokun lebih besar, pemasukan juga lebih besar dan lebih stabil, status imigrasi tidak perlu diragukan karena sistem hukum juga semua sudah jelas.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, jelas lebih mudah untuk dia (kalau dia mau berfungsi sebagai kepala keluarga) untuk mendukung hidup gw di Jepang daripada kalo di Indonesia. Menurut gw, keputusan dia supaya kami menetap di Jepang meski memang akan ada setback yang bikin gw harus struggle di awal, tapi benefit-nya akan lebih besar daripada cost-nya dalam jangka panjang.

 

Spouse Visa Indonesia vs Spouse Visa Jepang

WNA pemegang spouse visa Indonesia (alias ITAS / ITAP sponsor istri) boleh bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Tapi tidak dalam rangka memperkaya diri. Karena itu WNA yang menetap di Indonesia dengan ITAS / ITAP sponsor istri banyak yang berakhir buka toko kecil-kecilan, rumah makan, bengkel, gerai seni, dan lain sebagainya yang profitnya tidak banyak. Bahkan nggak sedikit yang bekerja secara ilegal, atau bahkan menganggur.

Kenapa nggak pada kerja kantoran aja? Jadi manager, direktur, atau bahkan presiden perusahaan? Karena ada keketapan Undang-Undang yang membatasi. WNA yang ingin bekerja di perusahaan, harus mengantongi ijin kerja yang terpisah (bukan sponsor istri) tapi sponsor perusahaan. Itupun perusahaannya harus dapat ijin dari Kementrian.

UU No. 13 tahun 2003 – Tentang Ketenagakerjaan

BAB VIII
PENGGUNAAN TENAGA KERJA ASING
Pasal 42

  1. Setiap pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja asing wajib memiliki izin tertulis dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk.
  2. Pemberi kerja orang perseorangan dilarang mempekerjakan tenaga kerja asing.
  3. Kewajiban memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), tidak berlaku bagi perwakilan negara asing yang mempergunakan tenaga kerja asing sebagai pegawai diplomatik dan konsuler.
  4. Tenaga kerja asing dapat dipekerjakan di Indonesia hanya dalam hubungan kerja untuk jabatan tertentu dan waktu tertentu.
  5. Ketentuan mengenai jabatan tertentu dan waktu tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) ditetapkan dengan Keputusan Menteri.
  6. Tenaga kerja asing sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) yang masa kerjanya habis dan tidak dapat di perpanjang dapat digantikan oleh tenaga kerja asing lainnya.

Itu baru soal pekerjaan. Belom lagi soal kepemilikan properti kalau nggak punya prenup, lebih ribet lagi. (Baca juga: Pro Kontra Prenup Sebelum Menikah dengan WNA)

Nah. Di lain pihak, spouse visa Jepang memungkinkan gw untuk sekolah, bekerja, dan lain sebagainya dengan bebas layaknya WN Jepang sendiri.

Ya menurut lo aja deh.

 

Bahasa Indonesia vs 日本語

Gw sudah mulai belajar Bahasa Jepang sejak gw mulai hubungan dengan Tomokun. Bukan hanya demi hubungan gw sama Tomokun, gw belajar bahasa Jepang karena pada dasarnya gw memang suka belajar bahasa. Bahkan kegiatan move on gw dari mantan tunangan yang dulu, salah satunya adalah les bahasa.

Meski ketika awal-awal hubungan gw belajarnya hanya seminggu sekali (sekarang seminggu dua kali), gw sudah ngabisin buku Minna No Nihongo 1 dan 2. Sekarang gw sudah pake Minna No Nihonggo yang tingkat menengah.

Gw sangat yakin tanpa keraguan sedikitpun, bahwa gw akan bisa lancar berbahasa Jepang seperti gw lancar berbahasa Inggris.

Di lain pihak, Tomokun tidak punya passion yang sama terhadap belajar bahasa in general, dan belajar bahasa Indonesia pada khususnya. Dia bisa sedikit bahasa Indonesia, secara dia pernah tinggal di Indonesia cukup lama. Dia ngerti makanan dan arah jalan dan beberapa hal lain, tapi nggak fasih dan memang nggak berusaha ingin fasih anyway.

Ya lebih baik gw yang belajar bahasa Jepang aja deh daripada Tomokun yang belajar bahasa Indo. Toh gw suka juga belajar bahasa, kan.


 

Dari ketiga point tersebut: Keleluasaan support dari kepala keluarga, status visa, serta bahasa, gw memutuskan bahwa pindah ke Jepang memang lebih baik daripada stay di Indonesia.

Gw merasa gw adalah ikan yang sudah siap keluar dari kolam dan belajar jalan di daratan. Meski gw mungkin bakal kangen sama dedaonan yg warnanya ijo sepanjang tahun. Meski gw mungkin akan kangen sambel dan iga penyet dan sayur asem. Meski temen gue bilang gue bunga yang dicabut dari taman buat ditaroh di pot bunga.

I believe in myself and my partner, we can handle it. If we’re together, we’ll be okay. As long as it’s him, I’ll be fine.

I made up my mind. I’m moving out soon.

 

“You know you have all my support.”

“I know.”

Yokohama

Yokohama, 3 Januari 2018. Taken by RedZzdeLady.