DONT WORK FOR ILC

I repeat : Don’t work for International Language Center Indonesia. If you are a foreigner looking for a steady job.

First of, get real, it’s not international in any way. It’s just opened in Jakarta and some other big cities in Indonesia (I guess? But I’m not sure), and not all over the world. The term ‘international’ in their name, i assume, refers to the fact that they have teachers from all around the world. For example there was a Ukrainian girl who lived in Dubai for some time and somehow she taught English at ILC. ….Come to think of it, she alone could have represented the “international” image right.

Secondly, they treat the teachers badly. I have at least 3 friends who are foreigner and were teachers at ILC, and they were treated horribly.

For example, Karin (not a real name) is a teacher at ILC Citraland. When ILC opened a new school at Lebak Bulus, Karin and some other native teachers were sent to be a teacher there. But it didn’t mean they didn’t have to teach at Ciputra anymore, no. They just have to do Mon-Wed-Fri at Citraland and Tue-Thu at Lebak Bulus. And even though ILC paid for the taxi to go from Ciputra to Lebak Bulus, but they didn’t get a raise. Only after they asked for it and had to be very stubborn about it, that they got the raise they deserved.

But that’s just a small case. There’s an event that made me furious, and it happened just a few days ago. At that time Karin already resigned from ILC and the other two friends I have were still working for ILC. Suddenly I got a news: The two native guys were fired.

It was so sudden that I was very shocked, because both are good teachers and didn’t have any problem with their students the last year. I heard that day was ONLY TEN DAYS BEFORE THEIR KITAS EXPIRED. Btw kitas is a permit to live momentarily in Indonesia. And the reason why ILC fired them? Because it was quite expensive to extend their kitas. It will cost around $2500-$3000 and ILC doesn’t have that kind of money. So they just fire the two poor clueless guys.

and other than that there are lots of other reasons you have to consider. for example, you don’t get insurance, the fee is small and it’s hard to get a raise (but this one is common in indonesia anyway, since the standard of living is not too high), and some other things.

actually language course in Jakarta is booming nowadays. they usually have the same kind of program for the students, like so:

the students need to pay a certain amount of money for a few months membership (i paid 4million to get 8months membership), and during that period of time the student is free to get to as many classes as he/she wants. mind you, my teacher friends also said that this system is difficult for them.

imagine having a class of three people. one person came on your first and second class but missed the third, now she’s here for the fourth class, no? then there’s another person who came on your first, second, and third class but missed the fourth. meanwhile the third person came on all your classes and never skipped even one, and now is his fifth class with you already.

how are you gonna teach? which subject? cos the first and second student missed a subject. but if you wanna repeat your subject, the third student will probably gain no benefit. dilematic no?

so anyway. sorry if my writing today is a bit messy, i’m very sleepy but i just have to put this out there.

DON’T. Don’t work for International Language Course Indonesia.

Everything Wrong with ILC (International Language Center) Pt.2

Hello guys, como estan?

Hari ini gue notice ternyata ada yang masuk ke blog gw ini berkat nyariin di Google “cerita les di ILC”. Bulan lalu kan gw pernah ngepost tentang ituh. Bisa dibaca di sini kalo belon baca. :3 Nah ceritanya tiga minggu yang lalu gue “ujian kenaikan level” di ILC dan setelah libur satu minggu gue sekarang udah mulai level baru di ILC. Jadi sekarang gue kembali lagi dengan keluhan yang lebih update. Hahah

1. Poor Exam Questions Quality
Gue ikut tiga ujian kenaikan level, yaitu bahasa Inggris, Mandarin, sama Spanish. Gw jujur aje nggak ada keluhan kalo tentang ujian Spanish dan Mandarin, tapi soal ujian bahasa Inggris nya bikin gue pengen ngajak berantem yang bikin soal. Kenapa? Karna pertanyaannya banyak yg salah, dan ada salah ketik juga. Entah salah ketik atau beneran dia kira “until” itu tulisannya “untill”.

Saking emosinya gw, gw sampe nulisin penjelasan singkat di kertas soal/jawaban gw. Not trying to be a smartass, tapi gue benci banget aja gitu sama soal yang ngga bener.

Contoh soal yang ga bener nya kayak gimana? Gue sayangnya nggak poto karna ngga megang HP pas ujian. Tapi salah satunya yang gue inget, ada soal yang modelnya gini:

Yesterday, I … my friend.
A. run to. B. run into. C. run from.

Gue harap elo ngerti betapa keselnya gue karna “yesterday” seharusnya digabungkan dengan verb 2 (ran), bukan verb 1 (run). Dan ini cuma satu dari beberapa pertanyaan lain yang ngga masuk akal. Di antaranya, “despite” yang tidak digabungkan dengan noun / pronoun dan malah digabungkan dengan subject dan verb.

Setelah gue liat tanda tangan yang tertera di kertas soal, ternyata yang bikin dan yang ngecek itu satu orang. Haha. Kan geblek. Gimana bisa nemu ada salah di mana kalau yang ngecek sama yang bikin satu orang. Dan itulah kenapa gue rasanya pengen ngajak berantem yang bikin soal. Haha.

2. Jadwal Baru yang (Makin) Kacau
Jadi setelah naik level, kita pada ganti jadwal semua gitu. Awalnya jadwal gue enak sih, bisa ambil kelas Inggris jam 2, terus kelas Mandarin Beginner jam 4, terus kelas Spanish Beginner jem 7. Nah terus ceritanya sekarang kan naik level nih, dari Beginner 1 jadi Beginner 2, dan jam nya juga berubah. Mandarinnya jadi jam 7, Inggrisnya jadi siang jem entah berapa, dan Spanish tetep di jam 7. Alhasil gue musti give up salah satu antara Mandarin atau Spanish. Dan karna gue deket sama teacher Spanishnya dan karna kelas Spanish nya jauh jauh jauh lebih seru daripada kelas Mandarinnya, makanya gue tetep di kelas Spanish dan malah give up Mandarin.

Meski kata orang bahasa Mandarin lebih penting dari Spanish, tapi gue masih lebih pilih Spanish hahahaha.

Lucunya, bukan cuma gue yang ngeluh tentang jadwal baru ini. Banyak pake banget orang yang ngeluhin hal yang sama, dan ngga sedikit juga yang akhirnya harus give up salah satu bahasa demi ngambil bahasa lainnya. Singkat cerita, pokoknya intinya jadwalnya sucks deh.

3. Guru Native…..? Hello?
Balik lagi ke masalah guru native. Di postingan sebelumnya gue kan bilang kalo yang ngajar bahasa Inggris itu orang bule, tapi bukan first speaker English melainkan orang Mexico. Tapi ceritanya sekarang beliau sudah mengundurkan diri, dan alhasil sekarang ngga ada bule yang ngajar bahasa Inggris di ILC Citraland. Terakhir kali gue ikut kelas bahasa Inggris Level 5 di ILC Citraland, emang sih yg ngajar bisa dibilang lumayan bagus, meski lokal. Tapi masalahnya sekarang, ngomong sama orang bule langsung itu rasanya jauh beda dibanding ngomong sama orang lokal yang bahasa Inggrisnya bagus.

Harus cobain sendiri sih baru bisa ngerti maksud gue apa. Kalo ngomong sama orang bule langsung itu, kita belajar banyak accent dan bisa ngerti beberapa ungkapan-ungkapan yang sering mereka pake sehari-hari. Which is lebih berguna juga buat kehidupan sehari-hari. Dibandingkan ngobrol sama orang lokal yang sekedar bisa berbahasa Inggris bagus…

4. Sertifikat???
Ini juga ngaco. Gue malah denger ada temen gue yang dijanjiin sertifikat berstandard internasional. Hah? Internasional palamu, wong ILC nya sendiri aja baru buka di Jakarta palingan.. Gimana caranya bisa punya sertifikat berstandard internasional?? Haha.

Terus gue juga denger-denger kalo sertifikatnya itu bukan kayak sertifikat yang menyatakan “RedZzdeLady sudah lulus level 4 Bahasa Inggris”, nggak, tapi lebih ke “RedZzdeLady sudah mengikuti kursus Level 4”. Tau kan, macam sertifikat yang didapet kalo kita ke seminar-seminar gitu loh.

Tapi anyway, sertifikat mana pun yang bakal didapet, notice the word “BAKAL”, ya. Sekarang udah hampir 1 bulan gue di level baru, tapi belom dapet tuh yang namanya sertifikat-sertifikatan.

5. Terus…?
Yang menurut gue adalah masalah juga adalah, gue ngerasa nggak ada kelanjutan / follow up aja gitu, antara follow up dari teachernya kah, atau dari staff nya kah… Misalnya, gue kan ikut test bahasa Inggris level 4, tapi sampe sekarang gue belon terima hasil ujian gue. Gue nggak tau nilai gue berapa ataupun apakah gue dapet nilai sama sekali. LOL.

Terus gue masih masuk ke ILC tapi nggak masuk kelas Inggris atau Mandarin lagi, dan gue nggak merasa harus masuk juga karna ngga ada temen dan ngga kenal juga sama teachernya. Jadi males aja gitu. Nggak dicariin juga kok.

Emang sih, yang namanya kita ngeles, ya motivasinya harusnya dari diri kitanya sendiri juga. Tapi maksud gue, kerasa banget bedanya sama pas gue masih les di EF dulu. Di EF, meski juga bisa berenti abis satu level gitu, tapi gue deket sama staff nya, mereka bisa sapa gue kalo gue dateng. Mereka tau nama gue. Gue juga deket sama gurunya dan gurunya perhatian sama kelanjutan / progress belajar gue. Gue ngerasa punya keluarga di sana. Ngerti kan maksud gue? Bukan cuma sekedar tempat les, tapi tempat bertumbuh kembang juga.

Okelah. Segitu dulu keluhan gue kali ini ya. Ntar kalo gue nemu lagi palingan gue bikin part 3 nya. LOL.

Ciao~