Pengalaman Mendapatkan Spouse Visa Jepang

YAAAAYYYY, Residence Card gue udah jadi! Spouse Visa gue udah jadi! Gue sudah hampir jadi orang Jepang sekarang! Yaaay!! Buat you guys yang belom ngikutin cerita gue sebelumnya, gue recap aja. Gue sudah menikah sama orang Jepang di Jepang bulan Maret 2018, dan proses mengurus surat-surat pernikahannya sudah gue tulis di post ini. Kemudian setelah pernikahan didaftarkan, gue ngajuin untuk bikin visa istri, yang memperbolehkan gw untuk sekolah maupun bekerja di Jepang.

Karna gw belom jago bahasa Jepang, gw nggak paham apa aja yang harus disiapin untuk apply spouse visa di Jepang, jadi gw percayakan sama Tomokun. Dan Tomokun memutuskan untuk pake jasa notaris aja supaya ada yang bantuin ngurusin kelengkapan dokumen dan bolak balik ngurus proses aplikasinya. Kebetulan Tomokun ketemu dua notaris Jepang yang spesialisasinya di pernikahan internasional.

Notaris di Jepang nggak terima jawab konsultasi via email, jadi kalau mau email / telpon ya cuma untuk atur jadwal ketemuan aja untuk konsultasi face to face nya. Jadi, Tomokun bikin janji ketemu sama kedua notaris tersebut.

Notaris pertama yang Tomokun samperin ada di Yokohama. Katanya sih bisa bahasa Indonesia tapi gak tau juga yah. Tapi kata Tomokun, untuk konsultasi tanya-tanya 5 menit aja ternyata harus bayar, jadi dia kurang sreg. Akhirnya dia datengin notaris satu lagi di Roppongi, Tokyo.

https://ameblo.jp/intl-marriage-procedure/

Notaris yang ini namanya Sakuma-san, gak bisa bahasa Indonesia tapi bisa bahasa Inggris. Doi sikapnya lebih flexibel dan lebih muda dari notaris pertama, mungkin doi sekitar early 40s? Gw gak pinter nebak umur sih, jadi gak tau pasti. Tapi konsultasi sama Sakuma-san gak perlu bayar, plus waktunya lebih flexibel dan bersedia untuk janjian di weekend, jadi lebih nyaman konsultasinya. Akhirnya Tomokun mutusin untuk pake jasa dia aja.

Setelah kita bayar (100ribu yen), dan btw harganya mungkin berubah sewaktu-waktu ya, nanti sama dia dikasih list dokumen yang harus disiapin, dan dikasih form untuk diisi. Setelah kita kumpulin dokumen dan isi form tersebut kita dateng lagi ke dia untuk run through kelengkapannya.

Waktu itu ada salah satu dokumen yang Tomokun gak bisa provide. Gw kurang paham apa, tapi kayaknya sesuatu yang berhubungan sama pajak karna Tomokun di tahun sebelumnya sempet self-employed jadi… Gw gak paham. Intinya salah satu dokumen ada yang kita gak bisa sediain. Kami dateng ke Sakuma-san dengan permasalahan tersebut. Sudah worry aja bakal jadi masalah. Tapi ternyata Sakuma-san cukup prepared jawab masalah kita dan ngasih alternatif beberapa pcs dokumen pengganti yang Tomokun bisa dapetin dari kantornya yang sekarang. Happy!!

Kemudian passport gw juga dipegang sama Sakuma-san dan sebagai gantinya gw dapet surat resmi dari dia yang menyatakan passport gw ditahan untuk kebutuhan apply visa blablabla, ya sudah. Kita percayakan saja semuanya ke Sakuma-san. Kata Sakuma-san, prosesnya bisa makan waktu sekitar 2 sampai 3 bulan. Kami ketemu Sakuma-san ini sejak pertengahan April, jadi kami ancar-ancar Spouse Visa nya selesai sekitar pertengahan atau ke akhir Juni.

Okeh. Kami pulang. Leha-leha, lalala, syalala syubidubidamdam, dan BOOM.

Minggu lalu rentetan kejadian tidak mengenakkan terjadi di Indonesia, tepatnya mengenai terorisme. Sampe masuk ke berita Jepang loh ya, coba, bikin malu banget gak sih, secara gue seakan-akan berasal dari negara teroris gitu. Gw sempet khawatir aja kalo ini bakal ngeganggu proses aplikasi visa gw, karna gw punya kewarganegaraan yang sama ama curut-curut teroris mabok agama itu.

Sekitar tanggal 14 May, dua hari sejak bom Surabaya, tetiba Sakuma-san nge-email.

This email was so unexpected because it’s was way way waaaaayyyyy too early, it’s only a month after our last meeting. So Tomokun and I we expected a bad news. But the email says, “おめでとうございます!”

That means congratulations, btw.

Ternyata Spouse Visa gue udah jadi. Satu bulan sejak terakhir ketemu sama Sakuma-san. Satu setengah bulan lebih cepat dari perkiraan. Wow. What kind of sorcery is this? Sakuma-san sugoi! Wow! Much fast! Much reliable! Kami janjian untuk ketemu hari Minggu siang di kantornya beliau untuk ambil visa dan passport gw.

Gw kita visanya bakal ditempel di passport gw, tapi ternyata nggak, spouse visa jepang bentuknya kartu residence card.

Pas ketemuan sama Sakuma-san terakhir kali, hari Minggu kemarin, doi ngasih selebaran pengumuman gitu tentang hal-hal yang harus diperhatikan dan harus hati-hati. Doi ngasih tau kalo keluar dari Jepang harus pake dokumen ini itu, terus dia juga berpesan untuk siap-siap perpanjang visa nanti 3 bulan sebelum visa gw expired, terus dia juga suruh gue sama Tomokun banyak-banyak wefie buat bukti kalo kami bener bener sungguhan menikah dan hidup bersama. You know.

So! That’s it!! Hanya dalam waktu satu bulan gue udah dapetin spouse visa Jepang, berkat bantuan Sakuma-san. Ini bukan endorse, ini bukan iklan, ini cuma testimoni dari customer yang puas!

Contact Sakuma-san via website nya: https://ameblo.jp/intl-marriage-procedure/

Remember, doi nggak terima jawab konsultasi via email, jadi kalau mau email / telpon ya cuma untuk atur jadwal ketemuan aja untuk konsultasi face to face nya. Good luck untuk proses apply spouse visa lo ya 😀

Advertisements

Am I Lonely?

So a few days ago I went out with Tomokun’s friend’s wife, Anna. She stayed in Jakarta for a year or so not too long time ago, but now She lives in Tokyo. She was kind enough to ask me to hang out. Since it’s the season for Wisteria flowers and she happens to love photography too, we decided to visit a shrine for Hanami. One of the questions she asked me during our walk, lingered until now. She asked if I feel lonely during daytime when my husband is not at home.

My answer to her was, “Well, I feel lonely in general.”

I didn’t mean it to be bad, though, I like being alone. Most of the time, I don’t mind it. And I understand that this is the required phase anyway, I need to get through this phase to get to the new, higher, brighter, more fulfilling life. Very much like entering a new level of a game you’ve mastered, suddenly things are a bit harder, suddenly your skills or abilities become limited, etc. But it’s not a bad thing. It’s just a new level.

Kayak yang pernah gue mention di blogpost sebelumnya, hidup gue di Jakarta dulu itu penuh dengan self-actualization activities. Hidup udah nyaman banget dan udah maksimal banget. Gue berprestasi di pekerjaan dan bahkan jadi head team. Gue udah sampe terlibat kontribusi bulanan jadi Pendekar Anak nya UNICEF dan Desa Anak SOS. Dulu gue dikelilingi orang yang baca buku gue dan denger pendapat gue. Dulu gue selalu punya teman yang bisa gue ajak karaoke, ajak makan, ajak jalan, ajak nonton. Dan bahkan ketika gue lagi gak pengen bersosialisasi juga gue tetep bisa ke mana-mana sendirian.

Life was so free and easy, yknow? I’ve mastered life. But now most of those things are paused.

In a sense, life is free and easy here too. Just in a smaller scale. It is easy cos there’s barely any traffic, gak ada demo random, I can walk everywhere, gak takut digerebek / diciduk karna dikira lagi cabul dengan non-muhrim, gak takut dijambret atau sepeda ilang dicuri orang, gak ada yang marahin kalo pulang malem, gak dicariin. So free. Just minus all the big accomplishments and companionship.

And is that a bad thing? Not necessarily, right?

Bentar lagi nanti setelah visa gue kelar, gue bisa restart kehidupan gue dan mulai jadi agak normal. Sekarang gue masih di posisi skak mat yang emang gak bisa ngapa-ngapain karna visa gue masih visa turis. Nah nanti, setelah gue dapet visa istri, gue udah bisa mulai cari sekolah, mulai cari part time jobs.

Nanti gue akan bisa mulai bersosialisasi dengan orang lain lagi, mulai kumpulin teman baru, mulai bergaul, confidence dan self esteem gw akan lebih stabil terjaga.

Sekarang gw lebih rapuh karna sumber hidup gw masih di Jakarta. Gw masih berpegang sama apa yang gw lakukan / alami / miliki dulu pas masih di Jakarta. Gw kayak anak labil baru putus dan susah move on.

Tapi ini gak akan lama lagi kok. Hidup yang gw jalani sekarang adalah hidup yang gw pilih. Dan gw yakin gw bisa punya fulfilling life juga di sini. Cuma belom dimulai aja. 🙂