Perjuangan Satu Garis Biru

Mendekati usia 30 tahun, tanpa sadar social media mulai dipenuhin sama foto-foto anak-anak temen, foto-foto temen-temen lagi pada hamil, dan atau foto hasil ultrasound jabang bayi yang baru muncul di perut mereka. For the most part, I’m happy for them, terutama kalo mereka temen baik gue, atau orang-orang yang gue tau sudah berusaha lama untuk dapet anak. Gue pasti selalu senyam senyum ikut hepi, selalu ikut excited, selalu ikut merasa hangat di hati. And then I’ll mute their story and posts. πŸ˜€

Not that I’m not happy for them. Or that I’m annoyed. I was just sad for me.

The thing is, sejak musim panas tahun lalu gue dan suami sudah mulai berusaha untuk punya anak. Cuman belum berhasil. Kalau belum berhasilnya sebulan dua bulan ya masih bisa senyam senyum, dinikmati aja prosesnya yekan. Tapi kalau belum berhasilnya mulai lewat 6 bulan.. Mulai lewat 8 bulan.. Apa nggak mulai keringet dingin? πŸ˜€ Sementara di kanan kiri teman-teman dan sodara-sodara yang baru menikah eh langsung posting foto ultrasound 5 weeks nya. Heyyyyyya.

I know getting married or getting pregnant is not a race. Semua orang punya waktunya masing-masing, ada yang lebih cepat ada yang lebih lambat. Ada yang bisa dapet ada yang nggak bisa. It’s not a competition, I get it. But even so, I was still envious.

Don’t get me wrong, I am happy for you. If you just got pregnant or just gave birth or your toddlers do cute things, I’m happy for you. But sometimes I just prefer not to hear about it too much, you know? It was for my own sanity. My own peace of mind. Supaya gue bisa lebih fokus sama langkah gue sendiri yang lebih pelan daripada klean.

Tho I know it’s not exactly healthy to feel like that. Kalo ada sesuatu yang salah kan harusnya bisa melakukan sesuatu untuk dibenerin. Kalo nggak bisa dibenerin kan bisa cari jalan keluar lain. Makanya setelah gue ngobrol dari hati ke hati sama suami, gue dan suami akhirnya memutuskan untuk take matters more seriously. Kita mutusin untuk konsultasi ke dokter.

Konsultasi ke dokter is a privilege, karena mahal binggo. Sekali dateng aja bayarnya bisa 2500 yen minimal. Pernah gue sekali dateng bayarnya 8000 yen lebih, gimana gak shock. πŸ˜€ Tapi gue pikir ya udah lalui aja apa yang harus dilalui, namanya juga berproses. Duit bisa dicari, anak bisa diusahakan. Yekan.

Nah dari dokter itu gue selain diperiksa muacem-muacem, gue juga dibimbing disuruh ini itu dan dikasih saran. Berikut ini gue sharing beberapa poin yang gue dapetin dari dokter (dan teman-teman lainnya), yak. Buat you guys yang mungkin juga lagi mencoba hamil, mana tau jadi info menarik dan berguna.

 

Folic Acid

First and foremost, ini salah satu yang direkomendasiin. Suplemen asam folat, atau folic acid, atau 葉酸 (Yousan) ini gunanya untuk…? Nggak tau. Yang gue tau kalo udah hamil, folic acid ini memperkuat janin dan membantu perkembangan otak janin. Jadi sama dokter disarankan untuk dikonsumsi semenjak mencoba hamil hingga kehamilan dan bahkan menyusui, dan dosisnya mulai dari 400 microgram per hari.

 

Checking Basal Body Temperature

Dokter gue juga nyuruh untuk ngukur Basal Body Temperature. Apa itu? Suhu tubuh di titik paling rendah, yaitu ketika tidur.Β Gunanya ngukur BBT ini adalah untuk melihat lamanya siklus ovulasi, atau bahkan untuk lihat apakah ada ovulasi yang terjadi.

Ngukurnya pake temperatur khusus yang gue dapetin di drug store seharga 2000an yen. Karena temperatur khusus itu lebih sensitif terhadap suhu tubuh, jadi lebih akurat sampe ke koma-komanya gitu. Nah cara ukurnya, setiap baru bangun tidur SEBELUM NGAPA-NGAPAIN, masukin temperaturnya ke mulut di bawah lidah. Sebelum ngapa-ngapain ya, berarti sebelum bangun duduk, sebelum minum, sebelum ke WC. Pokoknya begitu buka mata langsung hap.

basal_body_temperature-e1563780867192.png

Abis itu dicatet tiap hari sampe jadi kayak gambar di atas ini. Jadi ceritanya nih kalo dalam bahasa paling anak kecilnya ya, ketika suhu tubuh di bawah 36,7 derajat celcius itu masa-masa menstruasi dan masa ovulasi. Hari terakhir suhu tubuh rendah sebelum suhu tubuh naik ke atas 36,7 derajat celcius, itu adalah hari di mana telur dikeluarkan. Hari ovulasi. Nah setelah telur dikeluarkan, tubuh akan naikin temperatur sendiri, karena untuk ngeremin telur yang dikeluarkan. Kalo terjadi pembuahan, temperatur tubuh akan stay di atas 36,7 celcius sampe lamaaaaa. Kalo nggak terjadi pembuahan, setelah sekian hari (misalnya 14 hari) maka suhu tubuh akan kembali ke bawah 36,7 celcius dan menstruasi datang.

Siklus ngeremin telur dengan suhu tubuh di atas 36,7 derajat celcius itu (namanya Luteal Phase btw) biasanya pakem nggak berubah-ubah. Jadi misalnya siklus tingginya 14 hari, pasti selalu 14 hari kemudian mens. Kalau lewat sampe berhari-hari, misalnya sampe 17 hari, 18 hari, itu ada kemungkinan terjadi pembuahan alias hamidun.

Sementara kalau Luteal Phase lebih pendek dari 10 hari, itu artinya tubuh kita nggak ngasih cukup waktu untuk support a growth of a baby in the belly. Kayak nggak cukup waktu lama untuk ngeremin telurnya, gitu. Jadi kalau Luteal Phase pendek itu lebih susah untuk hamil.

Pas gue mulai konsultasi itu kebetulan gue lagi demam, dan gue minum penurun panas. Jadi siklus pertama yang tercatat, Luteal Phase gue keliatannya sangat pendek. Khawatir sih, tapi dokter suruh gue lanjutin dulu catet BBT nya sampe siklusnya lebih jelas keliatan lebih konstan.

 

Thyroid Hormone

Aaaah Hashimoto my old friend. Gue ke dokter endokrin khusus untuk ngurusin thyroid ini. Kata endo gue, untuk mencapai kehamilan itu hormon tiroid (TSH) harus berada di spektrum yang spesifik. Dia sebut, tapi gue lupa. Maap ya. Begitu juga ketika terjadi konsepsi, atau sudah hamil, hormon tiroid juga harus ditambah dan harus dijaga di spektrum tertentu selama trimester pertama, kemudian mungkin harus ditambah lagi di trimester kedua dan ketiga.

Tiroid itu jaringan yang ukurannya termasuk kecil. Tapi fungsinya banyak dan merembet ke mana-mana, karena ngatur hormon sih. Makanya dokter obgyn gue dan dokter endo dua-duanya encourage untuk tes darah sebulan sekali selama proses mencoba hamil dan kalau sudah hamil. すごく倧事です, kata dokter gue.

 

Ovarian Follicle

Nah, salah satu pemeriksaan yang gue jalanin di obgyn gue adalah trans-vaginal ultrasound. Jadi dimasukin alat kamera ke kelamin untuk melihat keadaan dalemnya gimana. Misalnya apakah ada cyst dan lain-lain. Tapi kegunaannya bukan cuma nyari penyakit. Dokter gue juga nyari buletan-buletan hitam dalam ovary gue. Selama beberapa kali pemeriksaan awal gue gak pernah tau buletan itu apaan, iya-iya aja gue mah yekan.

Si dokter suruh gue dateng lagi within 5 hari setelah mens dimulai, untuk cek buletan yang sama. Dan ternyata ceritanya dokter gue agak concern karena buletan-buletan gue ini ukurannya kecil. Tiny. Dia bilang, perempuan biasanya punya beberapa buletan tersebut dalam ovary, dan ukurannya bervariasi. Tapi pada umumnya ukuran buletan itu paling kecil 2mm, paling besar bisa sampe 1cm. Sementara dari semua buletan gue, yang paling gede ukurannya cuma 1,8mm.

Gue juga jadi ikutan concern. Karena gue kan nggak tau itu buletan apaan, dan is there anything I can do to help it, you know. Tapi si dokter bilang gak usah khawatir, karena dia juga sudah cek darah gue dan dari darah nggak ada masalah. Dia masih monitor terus aja sambil jalanin cek darah lainnya, misalnya level progesteron dan lain sebagainya.

Akhirnya gue research di Google. Ternyata, nama buletannya itu ovarian follicle, atau antral follicle, yaitu kantong-kantong yang mengandung telur yg belum mateng. Meski ada banyak follicle dalam ovary, biasanya hanya satu yang akan melepaskan telur yang matang untuk dibuahi. Theoretically, kalau banyak ya berarti persediaan sel telur aman. Kalau sedikit atau kecil ya berarti persediaan terbatas.

Dokter gue tetep monitor ukuran follicle gue setiap gue dateng konsultasi, sambil ngeliatin Basal Body Temperature gue. Dia hitung-hitung kira-kira kapan ovulasi, kemudian suatu hari dia berpesan ke gue untuk berhubungan seksual hari Sabtu pagi. Atau Jumat malam. Intinya 20 jam sebelum next visit, karena dia mau periksa sesuatu.

Akhirnya ya gue turuti, berhubungan di Sabtu pagi, kemudian Sabtu sorenya dateng konsultasi. Dan dokter lihat lagi ukuran follicle gue, eh masih kecil-kecil aja ternyata. Padahal seharusnya itu pas satu hari setelah ovulasi (setelah telur dikeluarkan), which kalo telur dikeluarkan dari follicle, ukurannya harus cukup besar supaya telur yang mature bisa keluar.

Setelah denger kabar ternyata follicle gue masih tiny, gue jadi agak panik dan sedih dan down. Gue tanya sama dokternya apakah ada yang bisa gue lakukan supaya ukuran follicle bisa membesar? Dokter bilang gak ada dari guenya, tapi dia bilang juga jangan berkecil hati. Karena ada kemungkinan bahwa telur sudah keluar kemaren, kemudian ukuran follicle nya mengecil karena sudah ngeluarin telur. Jadi ketika pemeriksaan itu istilahnya terlambat lihat ukuran terbesar follicle nya.

 

Dokternya baik sih. Ramah dan ngejelasinnya juga jelas. Jadi gue lebih tenang deh, meskipun masih sedih dan mellow gegara kok mau hamil aja susah amat. Padahal di luar sana banyak yang hamil di luar rencana. :”)

Kalo kata temen gue, mungkin baby gue masih jalan-jalan di dunia lain, belum mau lahir, masih pengen main-main. Jadi makanya gue belum hamil.

Kalo kata gue, mungkin Tuhan belom ACC gue jadi mamak karena gue belom siap. Mungkin. Secara mental ataupun finansial ataupun sekedar keadaan lingkungan yang belom memungkinkan, makanya gue belom dikasih hamil.

Apapun alasannya itu, perjuangan satu garis biru ini bikin gue mikir kalo gue nggak akan ngumumin kehamilan gue secara publik, kalo udah hamil nanti. Mungkin gue akan cerita ke temen-temen deket, atau yang emang melihat proses fisik gue berubah. Tapi nggak akan gue post foto ultrasound, foto baby bump, dan pengumuman lainnya.

Karena gue tau rasanya gigit jari liatin kebahagiaan orang lain, gue gak mau kebahagiaan gue jadi sumber gigit jari orang lain yang mungkin masih berusaha. Yang mungkin (kayak gue) udah ngabisin duit untuk ke dokter. Yang mungkin bahkan udah coba IVF dan masih belum berhasil. Yang masih natap test pack nungguin satu garis biru berubah jadi dua. πŸ™‚

Salam cemungudh.