Kenapa Gue Nggak Mau Publish Anak Gue di Medsos

Ini berawal dari ketika gue sedang mencoba hamil dan selalu merasa conflicted antara seneng dan sedih ketika melihat orang lain share tentang kehamilan atau tentang anak mereka di social media. Ketika itu gue punya tekad bahwa kalo gue hamil nanti gue gak akan post di social media. Idenya adalah, gw nggak mau “sesuatu yang membahagiakan gw” dijadiin fuel untuk perasaan negatif orang lain.

Contoh nyatanya sudah terjadi ketika gue announce kelahiran anak gue. Ya ga mungkin gue ga announce lah ya, gue idealis tapi masih realistis. Terus setelah gue post beberapa kali tentang anak gue, muncul kan tuh dua orang yang nggak seneng dengan kebahagiaan gue.

Ditambah lagi gue tau beberapa temen gue yang mencoba hamil dengan susah payah tapi belum goal. Gimana coba perasaan mereka kalau ngelihat gue ngepost anak gue melulu?

Belum lagi teman-teman yang masih single ataupun yang “belum waktunya” tapi sudah keburu baby fever duluan. Akibat ngeliatin foto anak gue terus langsung mupeng, “GUE JUGA PENGEN AH PUNYA BEBI BIAR ADA YANG GEMES GEMES KAYAK BEBINYA REDZ”. Blindly romanticizing the idea of having kids, karena romanticizing the idea of marriage is too mainstream already lol

Memang sih, kalo kata Nisye salah satu temen bae gue, “Kita nggak bisa ngontrol apa yang orang lain rasain dari ngeliat post kita.” Tapi kan kita bisa ngontrol apa yang kita post? Makanya, gue makin yakin bahwa keputusan gue benar untuk tidak publish kehamilan gue waktu itu, dan saat ini tidak publish banyak tentang anak gue ke publik.

Itu prinsip gue. Jadi sebenernya bukan karena privacy dan pengen sok-sok rahasiaan, apalagi bukan karena gue nggak hepi dengan kehadiran anak gue. Justru gue hepi, pake banget. Tapi ya itu, gue gak pengen kebahagiaan gue dinodai perasaan negatif dari orang-orang lain.

Nah tapi, sebenernya hari ini ada kejadian lain yang bikin gue ngerasa… Apa ya. Kalo bahasa Inggrisnya mungkin “secondhand anxiety”. I’m anxious, but on someone else’s behalf. Menurut gue ini sesuatu yang serius banget, tapi banyak orang masih buta soal ini: Privacy.

It’s a Scary World Out There, Mommy.

Hari ini gue lihat akun anak orang yang tidak dikenal. Akunnya khusus akun anak, biasa kan emang emak-emak gaul bikin akun khusus untuk ngumpulin foto anaknya. Masalahnya akunnya nggak digembok. Terus ya berdasarkan scroll lima menit gue tau kalo anak ini lahirnya di RSIA G***** F***** Jakarta. Lahirnya tepat hari ini setahun yang lalu, jam 0*.** pagi, ukurannya 4*cm, beratnya 31**kg, dengan dokter kelahiran namanya dokter R dan dokter anaknya namanya dokter S. Gue bahkan tau nomor pasiennya. Nama lengkap anaknya. Nama lengkap mamanya.

Semuanya itu gue dapetin cuma dari akun Instagram yang nggak digembok. Cuma berbekal scroll bentaran doang. Terus apa yang akan gue lakukan dengan informasi ini? …Bikin blog. 😀

Tapi kalo gue punya niat jahat pasti ada aja jalannya, dengan segitu banyak informasi, plus semua foto-foto anak tersebut dari sejak sebelum buka mata sampe sekarang udah satu tahun. Dari foto dengan prop, foto di kamar mandi, foto satu bulanan, foto keluarga, foto telanjang dada, foto lagi mamam……

Belom lagi, kemudian gue lihat akun instagram mamaknya… Waaaaaaah, lebih pesta pora lagi gue. Karna mamaknya juga rajin banget ngepost tentang anaknya, bahkan dibikin highlight IG story 0-3 months, 3-6 months, dst dst. Bahkan post terbarunya foto anaknya lagi mandi.

Yak. Coba pause dulu sebentar dan bayangin kalau gue pedofil, nemu akun tak digembok dengan berbagai foto anaknya lagi berenang lah lagi mandi lah lagi telanjang lah.

Merinding gak sih?

Sebenernya gue pengen negor, tapi nggak kenal sama orangnya. Kalo ditegor orang nggak dikenal kan rasanya gak enak banget ga sih? Ya gue berharap aja suatu saat nanti dia ngeh sendiri kalo akun IG anaknya nggak digembok, dan semua informasi bersifat pribadi itu terpampang gitu aja bebas diakses. Juga semua foto-foto anaknya yang bisa bikin predator seksual mabuk kepayang.

Iya, memang anak bayi tidak seharusnya dilihat sebagai objek seksual, makanya ketika kita sebagai orang tua, ngeliat foto anak kita telanjang atau lagi mandi, ngerasanya lucu, imut, lengan kayak michelin, pantat kayak bakpao. Tapi kita harus alert, EXTRA ALERT, karena di luar sana banyak yang mikirnya nggak kayak kita. BANYAK. Child porn is a thing! Hanya karena kamu belum pernah lihat bukan berarti itu nggak ada.

Nah.

Terus bayangin kalo anak udah usia sekolah. Sebagai orang jahat yang punya segitu banyak informasi, bisa banget loh pura-pura jadi keluarga untuk dateng jemput anak, bohongin anaknya dengan segala informasi curian dari medsos seakan-akan kita kenal sama ortunya. Aduhhhh.

Oke, lepas dari kejahatan yang directly affecting keselamatan anak kita, pernah kepikir tentang pencurian foto nggak? Ada loh kasus foto anak bayi dicuri untuk dijadikan iklan Jual Beli Anak Bayi. Googling aja kalo pengen tau lebih lanjut deh.

Parents, wake up. It’s a scary world out there. Nggak lucu kalo kita sebagai parents bukannya melindungi anak kita dari intaian kejahatan, malah menyajikan foto anak kita (dan informasi anak kita) di piring emas untuk dilahap dengan bebas. Anak kita, terutama sekarang di saat dia masih belum bisa melindungi dirinya sendiri, butuh kita untuk melindungi mereka, bukan untuk memamerkan mereka.

Jejak Digital itu Kekal

Belom lagi, ini salah satu alasan lain kenapa gue mikir berkali-kali untuk ngepos banyak-banyak tentang anak gue. Dan gue nggak akan ngepos anak gue dengan pose-pose kontroversial.

Bayangin kalo anak kita udah gede nanti dan finds out kalo foto-foto “memalukan”-nya dia dipajang dan dilihat oleh publik. Bahkan mungkin bisa dicari di Google Image. Gimana perasaannya? Gimana kalo mereka sebenernya nggak mau diceritain atau ditunjukin ke publik, dipamerin kayak piagam penghargaan mamak papaknya? Gimana kalo mereka sebenernya nggak suka? It’s their story to tell, not ours. This is what I believe.

Gue masih guilty karena gue masih ngepost foto anak gue meskipun closed dan ketat banget. Ga tahan karena after all he’s my pride and joy. Tapi gabungan antara alasan pertama gue dan yg kedua ini, bikin gue mikir berrrrrkali kali buat ngepost di post feed. After all kalo di story kan 24 jam lewat. Kalau di feed kan it will stay there, so I think it has more lasting effects and consequences.

Terus selain itu yang gue lakukan adalah gue simpen dengan baik aja kumpulan foto-fotonya, digital di tempat yang aman dan diprint jadi buku per bulan. Nanti kalo anak gue udah gede dia bisa lihat sendiri foto-fotonya dan kalau dia mau, dia bisa post sendiri. His choice. On his term.

Yang penting buat gue musti gue inget sendiri dan musti gue ajarin ke anak, bahwa jejak digital itu kekal. Jadi harus hati-hati ngepos apapun ke social media, terutama hal yang bersifat privacy.

Supaya ketika anak kita nanti lagi maju nyalonin diri jadi presiden, oposisinya nggak punya banyak bahan untuk ngejulidin dan ngegibahin anak kita. Jangan sampe gara-gara foto-foto yang kita kira lucu dan innocent, malah jadi batu sandungan di masa depan anak.

Okeh?!

Okeh!

Occupational Hazard?

Beberapa hari lalu, ada akun tak dikenal yg ninggalin komen tidak mengenakkan di salah satu post di IG gue. Bukan sekedar bilang gue gemukan kayak beberapa orang yang pernah kena gue semprot, tapi ini fitnah dan full blast kasar sekali, sudah masuk taraf yang bisa gue laporin polisi dengan pasal pencemaran nama baik. Gue ga mau keluarga gue lihat, gue langsung hapus comment nya, block akunnya, kemudian gue private akun gue untuk siapin proteksi dari serangan susulan.

Sebenernya gue tau orang di balik akun itu siapa. Sebut saja namanya Mawar. Dengan bantuan beberapa temen gue yg sesama istri orang Jepang dan tinggal Jepang, akhirnya sudah konfirm bahwa yg komen itu memang bener si Mawar. Motifnya pun kami tau.

Memang dari dulu banget gue kenal Mawar dia selalu pingin nikah sama cowok Jepang dan tinggal di Jepang. Dia sudah nikah dengan cowok Jepang sih, tapi ya namanya manusia, keinginannya memang gak akan ada habisnya. Ibarat setelah langit masih ada langit. Sama, Mawar juga gitu. Setelah nikah dengan cowok Jepang, selanjutnya adalah pingin tinggal di Jepang, dan akhir-akhir ini kayaknya lagi pingin punya anak.

Gue memenuhi semua kriteria hidup yang Mawar inginkan. Nikah cowok Jepang iya, tinggal di Jepang iya, dan punya anak juga iya nih barusan. Meski gue bukan satu-satunya cewek Indonesia yang tinggal di Jepang dan punya anak, tapi kebetulan si Mawar taunya atau kenalnya gue, jadi gue deh yang kena. Gue mikirnya sih gitu, makanya gue gak terlalu take it personally meskipun komennya kasar sekali.

Btw kalo gue yang pendengar setia eminem bisa sampe bilang “kasar sekali”, you guys dapet gambaran gak level kasarnya sekasar apa?

Sensitive Topics or Sensitive People?

Gue pernah denger ada yang bilang “There are no sensitive topics, only sensitive people.” Bener gak menurut you guys? Gue ga tau sih. Mungkin aja bener, cos some people can joke about death. But I guess kalau banyak orang yg sensitif terhadap topik tertentu, topik itu bisa dibilang topik sensitif. Contohnya topik agama, topik seksualitas, topik anak beranak, dan topik saya bundar. #nggak.

That’s one of the reasons kenapa selama gue hamil gue nggak bilang siapa-siapa kecuali yang memang deket banget sering ngobrol, dan yang physically ketemuan sama gue. Gue nggak umumin di publik. Karena memang selama gue masih mencoba hamil tuh rasanya ngeliatin pengumuman orang lain baru hamil atau sudah punya anak duluan, rasanya sedih.

Jadi gue ngerti how saddening it can be. It’s understandable to feel sad. Meskipun gue nggak akan pernah bisa lash out ngegila dan ngata-ngatain orang sampe kayak si Mawar gitu, tapi ya gue paham kenapa si Mawar ketrigger dan meledak gitu.

This is not to say I’m forgiving her, tho. I just simply understand the reasons. After all, even though it’s okay to feel sad, it’s not acceptable to attack people because you are sad. So I don’t forgive. Lagian dia juga ga minta maap hahaha

Oke balik lagi ke sensitive topic vs sensitive people, masalah anak beranak ini menurut gw memang bisa menyinggung banyak orang. Some people have been trying for years. Some people got pregnant and miscarried. Some can’t bear biological kids and have to wait in line to adopt. Some can’t even find a partner to marry and have kids with. Banyak problem terkait anak beranak yang bisa bikin orang lain merasa gak nyaman atau sedih. Berarti ini sensitive topic, setuju?

Oleh karena itu gue memutuskan, sebisa mungkin mulai sekarang gue hindarin oversharing tentang anak ke sosmed. Sebisa mungkin gue gak mau post foto muka anak lagi. Sebisa mungkin di sosmed gw jangan banyakin ngomongin anak. Tapi ya jujur aja susah bok hidup gue sekarang berpusat pada anak doang nih soalnya. Mulai bangun pagi sampe lagi pup aja sambil gendong anak. Hahaha. Ya anyway untuk solusi sementara, gue kalo share anak banyakin di story untuk close friend aja daripada story public. Sebisa gue.

The Consequences

Cuman ya, masih ada yang bikin gue gatel.

I’ve spent the last week kinda retrospected, kenapa event hidup gue kok bisa-bisanya mempengaruhi orang lain sampe segitunya. Bukan cuma Mawar, sempet sekapan-kapan itu pernah ada yang tanya / marah ke gue, “Kok orang kayak lu kok berani-beraninya punya anak???” itu juga.

Kenapa mereka marah, terhadap event hidup gue yang padahal nggak ada hubungannya juga sih sama mereka? Dikarenakan oleh event hidup gue yang sebenernya nggak mempengaruhi kualitas hidup mereka??

Ya elah ketemu gue aja kagak pernah lagi kok itu dua duanya, jadi palingan mereka lihat apa yg gue post di sosmed aja. Which solusinya sebenernya gampang: Kalo ga suka ya ga usah dilihat toh. Tapi mereka memilih untuk melihat, kemudian jadi tau bahwa gw beranak, kemudian mereka marah sendiri dan protes dan ngegila sendiri padahal KAGA ADA PENGARUHNYA JUGA ANAK GUE SAMA HIDUP MEREKA. Salah siapa coba? Salah mereka yang ngeliatin gue? … …. …… Atau salah gue yang aktif di sosial media?

Ya gue kan cukup aktif di sosmed, terutama IG kalo sekarang. Nggak sampe sekeren lexdepraxis atau catwomanizer gitu lah sampe punya fanbase atau follower base yang gede, tapi gue cukup aktif. Gue memilih untuk aktif, gue memilih untuk public. Masang potret kehidupan gue dan kejadian-kejadian dalam hidup gue ke etalase yang bisa diakses dunia maya, mulai dari keluarga, teman, bot, hingga orang tak dikenal semua bisa lihat. Gue memilih untuk dilihat.

Ga beda sama orang-orang yang bikin vlog kehidupan mereka… Yang bikin tiktok… Semua juga intinya sama, pengen difollow, pengen dikenal. Pengen disubscribe dan dishare sebanyak-banyaknya. Pengen eksis. Makanya sebenernya berat hati ini pas harus private account, dan berat pas harus limiting content atau batasin interaksi kayak sekarang gini. Eksis gue jadi nggak maksimal. Hahaha

Gue sempet mikir kalo gue Lex atau kalo gue Catwomanizer kira-kira gue ngapain ketika ada hater yg nyerang fitnah dll kayak gitu? Ah tapi kalo fanbase gue segede mereka pasti banyak yg belain kali ya. Kalo gue mah… Gue nggak pede bakal pada belain gue, yang ada mungkin mereka bilang “MAMAM. JUDES SIH JADI ORANG.” Hahahaha. Makanya gw cuma langsung lockdown akun aja kemarin itu. Cuman ya mau lockdown ampe kapan? Gue kan ya mau jualan juga Ego Playbook dan Make Him Yours. Makanya sekarang udah public lagi.

Lagian emang gitu kan resikonya dikenal orang? Semakin banyak orang yang kenal kita, semakin besar chance nya kita bakal dapet hater. Misalnya dari 1000 orang ada 1 yang benci sama kita sampe ngata-ngatain, berarti kalo follower gue 4000 kayak sekarang gini, berarti ada 4 orang yang benci sama gue dan bakal ngata-ngatain kalo ketrigger. Nah dua udah muncul gegara gue punya anak. Dua lagi tinggal tunggu waktu.

Tapi ya itu konsekuensi. Ya gak sih? Kita kan bikin akun sosmed, IG, blog, tiktok, youtube segala macem kan karna mau dikenal orang. Mau dapat reaksi dari orang lain. Kalo mau dikenal orang, harus berani hadepin haters juga. Kalo mau dapet reaksi, harus terima reaksi yang gak enak juga. Which yg negatif-negatif itu bakal semakin banyak seiring banyaknya orang yang kenal kita. Kalo kata temen gue, semakin tinggi pohonnya semakin kenceng anginnya.

Terus gimana kalo gak mau dibenci siapapun? Mungkin jangan share kehidupan kita ke public. Tapi kan itu juga belom tentu nggak ada anggota keluarga yang ngejulid. Hahaha.

Ya udah lah gue mikirnya for as long as we live we will always find ways to annoy people anyway. Intentionally or not. Jadi santai ajalah, idup cuma sebentar, kalo mau eksis ya eksis aja sesuka hati. Kalo ada hater? Gak usah diambil hati sampe terlalu personal, itu cuma occupational hazard aja. 😉

Cheers.