Gimana Caranya Punya Hubungan Bahagia dan Awet

Dan kenapa pernikahan jaman sekarang kayaknya gampang banget buat bercerai? Di sekitar gue aja rasanya kayak udah nggak aneh lagi untuk lihat duda ataupun janda. Bahkan yang seumuran gue pun ada beberapa yang gue kenal. Seakan perceraian udah bukan hal yang tabu lagi. Kenapa gitu?

Bukan, bukan karena iman orang jaman now melemah. Bukan.

Beberapa hari yang lalu ada beberapa cerita singkat yang mengusik hati gue cukup dalam. Cerita pertama gue dapet dari Buzzfeed, dalam sebuah artikel tentang pengakuan orang-orang ketika mereka sadar mereka fell out of love. Untuk memudahkan ilustrasi, kita anggap saja pasangan ini sudah menikah. The story goes like this:

We were in his house just hanging out and wearing our pajamas, but we had to go get something to eat. We got dressed and were about to leave when he looked at me and said, ‘You don’t have a bra on. You’re not going out with me like that.

That day I realized he was a moron. My body, my breasts, my decision whether or not to wear a bra.

Kalau lo mengangguk tegas membaca potongan cerita di atas, mungkin lo akan kecewa ketika lo tau, gue malah mengernyit, mengerutkan dahi, nggak setuju. Gue akan jelaskan lebih lanjut ntar belakangan.

Sekarang gue tunjukin dulu potongan cerita kedua yang mengusik hati gue minggu ini. Kali ini ceritanya berasal dari Humans of New York, one of my most favorite Facebook Page ever.

9e12473a-4c60-48d9-aa2f-69a552139b6a

Kalo gak kebaca tulisannya, ini gue tulis ulang biar jelas. Ini ceritanya couple dalam foto tersebut yang ngomong gini:

Marriage is about two things: sexual satisfaction and building generations. Nothing more. Only useless people are thinking about love. The result of a love marriage is never satisfactory. Divoce, arguments, affair. These things don’t happen in arranged marriage. Arranged marriage is always successful.

Love is for useless people. But if you’re going to feel love, at the very least, make sure it’s someone of a similar income level.

So, gimana setelah baca potongan cerita ini? Mengangguk setuju, sepemahaman dengan couple dalam foto? Atau malah mendengus, menggelengkan kepala, sambil bilang “NGACO!!!”?


Personal Gain & Greater Good, and How to Get The Worst of Both Worlds.

One of the reasons why we adore marriage is because we think we will be together with the person we love for as long as our parents (or other people’s parents) have been with each other. And we idolize happy ever after because we were taught that it’s existed, and we are entitled to get it.

Jadilah kita berakhir di dunia yang kejam, keras, di mana banyak hal tidak berjalan sesuai ekspektasi kita, karena kita ekspektasinya ketinggian. Gue nggak bilang “happy ever after” itu nggak ada. Justru menurut gue happy ever after itu ada, tapiiiiiii, ada tapinya. Happy ever after itu sendiri definisinya apa coba?

Nih ya. Secara singkat, kita bisa bagi tujuan menikah dalam dua kategori. Personal Gain, atau Greater Good.

Personal gain artinya lo masuk ke jenjang hubungan demi mengejar kenikmatan, kesenangan pribadi, kepuasan, validasi diri secara individu.

Greater good artinya lo masuk ke jenjang hubungan meski lo mungkin nggak selalu senang (atau lo gak senang-senang amat), demi tujuan di luar pencapaian pribadi lo sebagai individu, ya misalnya meneruskan keturunan.

Sekarang kelihatan pattern nya ya? Pasangan pertama yang mutusin pasangannya karena nggak dibolehin pake bra itu mengejar personal gain. Pasangan kedua yang menikah tanpa cinta itu mengejar greater good.

Dan setelah lo tau pattern nya begini, apakah menurut lo pasangan pertama itu salah? Ya nggak sih ya, karena dia memang mengejar personal gain. Dia lebih memilih kebebasan dan ekspresi diri dibandingkan seorang human companionship, dan berpisah dengan pasangannya membuat dia menjaga prioritas hidup dia yang memang adalah personal gain. Tapi lo juga jadi nggak bisa bilang pasangan kedua itu gagal, salah, nggak benar, dsb. Karena mereka mencapai tujuan pernikahan mereka.

Yang akan jadi masalah adalah lo nggak paham tujuan pernikahan lo / pasangan lo itu apa. Terus lo masuk ke dalam hubungan romansa / pernikahan dengan ekspektasi greater good, tapi nggak bersedia melepaskan personal gain. Gak sinkron. Gak pas. Alhasil apa?

Greater good udah setengah jalan (misalnya lo sudah beranak pinak), dan lo malah belok arah ngejar personal gain (misalnya lo memilih untuk bercerai karena merasa lo nggak tahan dinyinyirin mertua melulu dan pasangan lo nggak belain elo). Apa nggak berantakan itu namanya?

How to Cheat The System and Get The Best of Both Worlds.

Lo mesti paham dulu bahwa pernikahan (dan hubungan romansa in general) pada dasarnya adalah sesuatu yang tujuannya untuk GREATER GOOD. Makanya ada yang bilang kalau romansa itu adalah ketika aku dan kamu mati, lalu terlahirlah kita.

Pikir aja sendiri deh bener apa nggak, segala sesuatu dalam hubungan romansa dan pernikahan itu pada dasarnya sangat tidak individualistis. Kan ketika lo dalam hubungan, lo meluangkan waktu, effort, resources dsb untuk dinikmati oleh orang lain. Memang sih pasangan lo akan melakukan hal yang sama buat lo. Tapi seringkali lo harus berkorban sesuatu sebagai gantinya.

Contoh paling gampang aja. Gue. Karir gue bagus, pemasukan gue stabil, lingkungan gue kondusif, gue sangat senang bekerja di kantor ini. Gue punya teman yang supportif, gue dekat dengan coach-coach yang bisa gue Whatsapp kapanpun. Gue dimanja orang tua, gue bebas ke mana-mana naek Gojek sendirian, ngabisin duit yang gue dapetin sendiri. Saat ini, personal gain gue lagi tinggi banget.

But when we put “relationship” into the equation, things changed. Gue akan meninggalkan semua personal gain gue ini demi greater good gue, yaitu hubungan gue. Gue bahkan bersedia jadi stay-at-home mom nantinya, gue bersedia lepas semua kemandirian finansial gue demi greater good gue.

Tanpa gue melepas personal gain gue, gue nggak akan bisa dapetin greater good gue.

Ya ini kenyataan yang pait, kelam, keras, tajam, dan nggak ngenakin. Lo mungkin akan berpikir lo nggak mau ngelepas personal gain lo. Ya gapapa juga. Tapi jangan protes lo nggak ngedapetin apa yang lo anggap sebagai greater good. Karena ketika lo milih personal gain, lo tidak sedang mengejar greater good jadi jelas aja lo nggak ngedapetin yang lo nggak kejar. You can’t have both at the same time.

Bayangin lo ada dalam sebuah permainan sepak bola, terus lo lagi giring bola ke gawang lawan. Tapi eh kok gawangnya lawan ada dua. Lo mau tendang bola ke gawang yang mana, yang kanan atau yang kiri?

Lo nggak bisa dapetin dua-duanya sekaligus. Yang bisa lo lakukan adalah kompromi untuk bisa dapetin sebagian porsi personal gain, dan sebagian porsi greater good.

Nah beruntungnya gue diingetin sama coach Lex dePraxis di group Whatsapp alumni Lovable Ladies 2012-2014, bahwa kompromi itu nggak selalu berarti harus 50-50. Bahkan 70-30 pun sudah termasuk kompromi, jadi bisa 70% greater good, 30% personal gain, which is my preference right now.

Mungkin besok-besok gue akan revisi prioritas gue. Bisa aja. Tapi gue masuk ke hubungan bersama Tomokun dari awal sudah dengan mindset gue mau ngejar greater good. Jadi prediksi gue sih, dalam jangka waktu yang cukup panjang prioritas gue gak akan banyak berubah.

Sekarang lo. Lo pengennya apa? Pengen happy banget, bebas banget, suka-suka hati lo banget? Maka lo akan jadi pasangan yang di cerita pertama di atas tadi. Lo akan memilih memutuskan hubungan romansa, memilih meninggalkan seorang human companionship, demi kebebasan nggak pake beha. Ya nggak ada salahnya, karena lo ngejar personal gain, it’s understandable. Asalkan lo sadar apa yang lo pilih, lo sadar apa yang lo lakukan, konsekuensinya apa.

Misal lo pengennya punya keturunan, lo pengen bareng pasangan lo sampe tua biar lo ada yang nemenin kalo tua, lo pengen berbagi kebahagiaan dan suka duka, lo pengen stay dalam komitmen pernikahan, ya berarti lo akan jadi pasangan yang kedua. Suatu saat nanti meskipun rasa cintanya udah kebas dan hilang, lo akan tetap stay ada dalam hubungan tersebut karena lo ngejar greater good. Which is understandable, too. Terserah lo.
Asalkan lo memilih dan menjalankan pilihan lo, serta menerima semua konsekuensinya secara sadar.

So!!!

Itu aja tulisan gue kali ini. Semoga bisa bikin you guys mikir. Happy ever after itu bisa aja ada. Tapi kita nggak entitled (serta merta berhak) untuk dapetin happy ever after tersebut. Happy ever after itu nggak terjadi secara otomatis setelah pernikahan dimulai, kayak di dongeng-dongeng gitu. Untuk mendapatkan happy ever after, kita nya musti effort ever after juga.

Pilih prioritas lo mau personal gain atau greater good, pilih porsi yang lo pingin. Jalani pilihan lo lengkap dengan konsekuensi yang ada.

Hopefully in the end you’ll find that you’re content with the choices you made.


Akhir kata.

Semua yang gue tulis di tulisan ini adalah hasil pemikiran gue sejak diskusi bareng coach Lex dePraxis dan Lovable Sisters di group alumni 2012-2014. To be fair, hampir semua pola pikir gue tentang romansa adalah hasil didikan Lex dePraxis himself. Kalo lo pengen diskusi dengan orangnya langsung, monggo colek aja ke fanpagenya. Atau bisa gabung ke group Kelas Cinta. ATAAAAAUUUUUU ikut kelas Lovable Lady Studio yang emang lagi dibuka pendaftarannya untuk tanggal 22 Apr 2018, 4 Aug 2018, dan 8 Dec 2018.

Capture999

I wait for you to join the sisterhood! 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s