Anak Ayam Management System

Para perempuan yang sudah pernah mengikuti kelas Lovable Ladies pasti sudah pernah mendengar istilah “anak ayam”. Bagi yang belum tau anak ayam itu apa, secara singkat anak ayam adalah panggilan sayang Lovable Ladies untuk teman-teman laki-laki terpilih di sekitar mereka. Akan tetapi, anak ayam bukanlah gebetan. Mereka berbeda. Anak ayam justru adalah jiwa-jiwa yang gugur secara prematur sebelum memasuki tahap gebetan. Istilahnya, teman bukan, gebetan pun tak sampai.

Salah satu pertanyaan yang cukup sering dilontarkan adalah, “Mengapa disebut anak ayam?” Sayangnya untuk saat ini saya belum bisa menjawab dengan baik pertanyaan ini. Satu-satunya kemungkinan jawaban yang saya miliki adalah, anak ayam kalau gede jadi ayam jantan, atau dalam bahasa inggris disebut cock. Tapi sudahlah, hal-hal etimologis tidak perlu terlalu dipusingkan, yang penting kita mengerti pengelolaan ternak anak ayam dengan baik untuk kesejahteraan bersama, bukan?

Sayangnya memang, meski banyak Lovable Ladies yang sudah mengerti konsep anak ayam, tidak jarang yang masih tergelincir dalam pelaksanaannya. Salah satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi, Lovable Ladies yang sudah berpasangan, tapi malah terlalu sibuk maintain anak ayam yang banyak karena takut tidak punya cadangan ketika putus dengan pasangan. Lol.

Ada pula peternak yang tidak bisa membedakan anak ayam dengan gebetan, sehingga menganggap bahwa kita sudah tidak boleh lagi memiliki anak ayam ketika sudah berpasangan.

Tidak, ladies, memelihara anak ayam bukan sebuah dosa. Bila Lovable Ladies bisa memanfaatkannya dengan baik, anak ayam punya banyak kegunaan tersendiri. Anggap saja, anak ayam adalah sparring partner, tempatmu berlatih semua trik yang kamu pelajari, untuk kemudian digunakan kepada pasangan atau orang yang memang kamu targetkan.

Bagaimana, sudah siap mencoba menggunakan jasa anak ayam? Baca dulu tulisan ini biar kamu lebih paham langkah pengelolaan dan pemanfaatan anak ayam dengan baik. 😉

All Taken as Consideration

Baik kamu ingin beternak sepuluh anak ayam, ataupun dua anak cukup, atau kamu ingin menjadikan suami orang sebagai anak ayam, terserah, saya tidak di sini untuk menjudge kamu. Saya di sini untuk membantu kamu menjernihkan pikiran, dan menyiapkan kamu untuk bermain dengan adil dan menikmati permainan.

Apapun yang ingin kamu lakukan, apapun itu, sekali lagi, apapun itu yang ingin kamu lakukan, ketahuilah bahwa tidak ada yang namanya “benar” atau “salah”. Yang ada hanya “konsekuensi”.

Beberapa kemungkinan konsekuensinya di antaranya:

  • Dia baper / kamu baper satu sama lain
  • Orang lain baper, lalu kamu dicap playgirl
  • Pasangan dia atau pasangan kamu baper, kamu dituduh selingkuh

Konsekuensi-konsekuensi tersebut belum tentu terjadi. Tapi bila kamu bisa menerima dan berani menghadapi bila konsekuensi tersebut terjadi di kemudian hari, maka silahkan jalani jalan apapun yang kamu pilih.

Untuk mencegah ataupun mengurangi efek konsekuensi yang terjadi, saya sarankan untuk selalu bermain dengan anak ayam dalam jangka waktu yang pendek-pendek saja. Turnover nya dipercepat. Jangan berkomitmen dengan satu anak ayam dalam jangka panjang karena potensi baper lebih besar. Kamu lebih mudah terjerumus dalam favoritism (lebih memperhatikan dia daripada yang lain), investasi semakin membesar, kemudian tumbuh cinta dan drama.

Hubungan dengan anak ayam tidak perlu dibuat ekslusif. We’re here for the fun, we don’t need the drama that comes with it.

Makanya sebenernya disarankan juga untuk punya anak ayam lebih dari satu dalam satu waktu yang bersamaan. Untuk mencegah hubungan ekslusif yang bikin invest, bikin baper.

Jadi, setelah beberapa waktu berlalu dengan satu orang anak ayam, perlahan kurang intensitas, kurangi sentuhan, kurangi hang out barengnya, kurangi semua dosis yang sebelumnya kamu berikan. Perlahan tapi pasti, tarik diri hingga level maintain yang minimum. Sesekali saling komentar IG boleh lah, tapi tidak perlu maintain secara khusus dengan ajak hang out dan lain-lain.

“Redz tapi gue sayang banget mau ngelepas dia!” Selamat! Kamu sudah baper!

Kalau kamu dan dia memang sama-sama single, dan dia memang berkualitas, ya silahkan naikkan pangkatnya menjadi gebetan, lalu kalau PDKT berhasil baru naikin lagi menjadi pacar.

Sementara kepada ladies yang sudah berpasangan, maupun yang anak ayamnya adalah laki-laki yang sudah berpasangan. Ingat, kamu TIDAK AKAN memiliki dia. Tujuanmu BUKAN untuk menaklukkan dia. TIDAK untuk memenangkan hatinya. Harusnya sejak memasuki arena tinju dengan anak ayam, tujuanmu adalah untuk melepas dia pada akhirnya. Dia hanya sekedar teman latihan tinju, sementara pertandingan sesungguhnya justru untuk mempertahankan piala bertahan, yaitu hati pasangan. Alright?

Nah.

Selain itu, perluas variasi. Jangan hanya jalan sama laki aja, tapi jalan juga dengan perempuan. Keluarlah untuk ladies day / night out, buat meet up dengan lovable ladies lainnya. Ingat kan, moto menjadi Lovable Ladies? Dicintai pria, dikagumi wanita. Kalau hanya dicintai pria aja ya berarti baru 50% dong progress-nya.

Lagian memiliki circle pertemanan perempuan itu berguna banget. Perempuan (meski banyak dramanya) tapi membantumu tetap benchmarking, kamu bisa saling belajar dan saling meniru, saling mengajar, saling menggampar, dan lain sebagainya. Ketika kamu sedang buta dan butuh teman diskusi mengenai konsekuensi yang kamu hadapi, your lovable sisters are the go-to people. 😉

All Within Boundaries

Untuk menjaga permainan tetap kondusif, silahkan atur intensitas interaksi dan tingkat kekentalan ketika flirting supaya nggak kecepetan bapernya. Nggak seru mainnya kalo salah satu udah keburu baper dan ngarep duluan. Justru semakin lama kamu dan anak ayam tidak baper, semakin menyenangkan permainannya.

Salah satu cara favorit saya adalah ngasih tau dia jelas-jelas, “Awas lo jangan baper!” (cuman biasanya orang kalo disuruh jangan malah bakal ngelakuin sih, lol)

Kalau salah satu dari kamu dan anak ayammu ada yang kelihatannya bakal baper, sebaiknya ubah kecepatan langkahmu. Tadinya salsa? Sekarang poco-poco. Pindahkan fokusmu ke anak ayam lain untuk sementara waktu.

  • Kalau kamu sudah punya pasangan.

Jangan kehilangan fokusmu. Pasangan tetap jadi prioritas nomor satu. Tujuanmu bermain dengan anak ayam juga perlu diperjelas kembali agar kamu tidak kebablasan. Ingat ya, di mana investasimu ditaruh, di sana cinta akan tumbuh.

Sekedar mengisi waktu luang ketika pasangan tidak ada? Boleh. Tapi ketika pasangan ada, fokuskan investasimu untuk pasangan. Kamu bermain untuk meningkatkan kepercayaan diri? Boleh. Tunjukkan kemilaumu untuk memukau pasangan. Hanya iseng? Boleh, tapi isengin pacar juga dong. Pada akhirnya, steady partnermu adalah pasangan yang sah dan terpilih. Benefit yang kamu dapatkan dari anak ayam dipakai untuk memperkaya hubungan kamu dengan pasangan.

Kalau perlu, kenalkan pasanganmu ke anak-anak ayammu, sambil bilang dalam hati, “Ini loh ayam jantan perkasa yang memenangkan hati dan pikiran gue. You guys nggak sejantan / sedewasa ini sih, makanya gue pilihnya dia.”

  • Kalau anak ayammu sudah punya pasangan

Tentukan batas dengan jelas untuk menghormati pasangannya anak ayam. Batasannya selain jangan baper (ya udah pasti lah ya) juga don’t play the flirting game too hard karena ntar bikin laki orang baper. Yang sebetulnya bukan tanggung jawab kita juga kalo dia jadi baper, tapi permainan lebih enak dan sehat dan berguna kalo nggak pake perasaan.

Kurangi juga ekspektasimu jadi level paling rendah kalau bermain dengan laki orang. Ingat, prioritas dia adalah pasangannya dia, dan memang sudah seharusnya seperti itu. Justru ketika dia sudah memindahkan prioritasnya ke kamu, kamu perlu khawatir. Bila hal itu terjadi, dan bila kamu malah senang dia memprioritaskan kamu, sebaiknya step back from the dance floor dan silahkan poco-poco dulu.

Selalu gunakan kepala dingin untuk menimbang situasi, jangan ngikutin hati. Matikan saja fitur hati, biar kayak redz jadi perempuan tak berhati. HMPH.

All in Good Fun

Poin terakhir!

Ada persepsi yang saya rasa juga perlu dibenahi. Memelihara anak ayam tidak berarti kita mempermainkan orang lain. Sadar tidak sadar, kita juga menjadi mainan dia kok. Jadi lebih tepat kalau disebut bermain bersama atau saling mempermainkan.

Dalam permainan sudah sewajarnya ada menang dan kalah. Terkadang kita yang menang, terkadang kita mengalah untuk menang, terkadang sebaliknya, tapi siapa yang menang dan kalah itu sebenernya nggak penting. Karna toh kita bermain, bukan berkompetisi.

Ketika kita “kalah”, terima kekalahan seperti ketika mukamu diolesi bedak setelah kalah bermain kartu. Sambil ketawa kan? Begitu juga ketika kamu menang, buat lawan mainmu merasa seperti dia “hanya” diolesi bedak. No harm done. Jadi dia meski kalah tetep hepi. Pas menang apalagi.

The art of playing with anak ayam justru gimana ngebuat anak ayam tau ini semua hanya sementara, ini hanya permainan, dan it’s all in good fun, dan dia tetap rela sengaja mengalahkan(?) diri.

Tapi ketika anak ayam mulai berinvestasi berlebihan dan atau mengharapkan lebih dari kita, you know what to do.

😉 Poco poco dulu say!

 

Advertisements

One comment

  1. Lex dePraxis · December 12

    Lex approves this.. 😊👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s