Pro Kontra Prenup Sebelum Menikah dengan WNA

Kebanyakan orang yang menikah sesama WNI nggak pake prenup karna mungkin dirasa nggak perlu, atau memang nggak tau prenup itu apa. Kayaknya memang nggak semua orang tau prenup itu apa, termasuk gue sendiri nggak terlalu tau. Tapi banyak yang sarankan gue untuk buat prenup, makanya gue caritau. Emang prenup itu apaan sih, dan butuh apa nggak sih bikin prenup?

Prenup (bacanya prinap) itu kependekan dari “Prenutial Agreement” atau perjanjian pra-nikah. Simpelnya, perjanjian untuk pemisahan harta. Bisa “harta sebelum menikah” yang jadi milik pribadi dan “harta sesudah menikah yang jadi milik bersama”, jadi kalo bercerai, harta pribadi nggak dibagi dua. Gampang ngertinya kan? Tapi gunanya prenup nggak cuman untuk “kalo cerai” doang sebenernya.

Tanpa prenup, ketika gue menikah dengan orang Jepang maka harta gw akan digabung dengan harta suami (atau harta suami akan digabung dengan harta gw, either way). Di mata hukum Endonesah, hal ini artinya harta gue adalah harta aseng. Dan pihak aseng nggak punya banyak hak di Indonesia. Aseng nggak boleh punya properti, nggak boleh punya saham di perusahaan Indo, nggak boleh dapet pinjaman kredit dari bank, dsb.

Gue sendiri masih menimbang-nimbang apakah gue butuh prenup. Banyak yang saranin harus bikin, tapi ya gue masih nggak convinced. Berikut beberapa argumen butuh / nggak butuh prenup ketika menikah dengan WNA.

 

 

Tanpa Prenup, WNI Nggak Boleh Punya Properti

Ini salah satu alasan yang paling sering disebutkan orang kenapa harus punya prenup kalo nikah dengan WNA, yaitu properti. Contoh kasusnya gini:

  • Semisalnya gue punya sebidang tanah sebagai WNI, lalu gw menikah dengan WNA, tanah gw dianggap milik aseng dan harus dijual ke WNI lain dalam waktu setahun setelah menikah atau akan disita negara.
  • Kalo semisalnya gue belom punya sebidang tanah, tapi setelah menikah dengan WNA gw dapet warisan rumah atau tanah, nggak bisa. Rumah / tanah itu harus dijual ke WNI lain dan gue cuman bisa dapet mentahnya aja.
  • Terus kalo misalnya nggak dapet warisan tanah dan sebagainya, kalo udah menikah dengan WNA nggak bisa beli tanah / rumah di Indo lagi. Jadi kalo misalnya udah nggak tinggal di negara pasangan lagi dan mau balik ke Indo pun nggak bisa beli, cuma bisa sewa. Which sebenernya nggak masalah juga sih karna hak guna bangunan di apartemen gitu sebenernya cukup-cukup aja kan. Tapi tanah di Indo kan lebih murah daripada tanah di luar negeri, jadi mikirnya, kalo ntar tiba tiba pengen beli gimana?

 

Tanpa Prenup, WNI Nggak Bisa Dapet Pinjaman Bank

Nggak cuman sejuta dua juta, we’re talking big numbers here, kayak puluhan atau ratusan juta buat modal bisnis ato apa. Gue sebenernya agak agak against pinjaman segede ini karena kalo nggak bisa bayar ei mati ei. Dan gue juga (dulunya dan untuk sekarang) merasa nggak butuh pinjaman besar.

Tapi, sekitar tahun lalu gw sempet ada pinjaman besar untuk keperluan tidak terduga, masalah bisnis keluarga. Dan gue jadi ragu, takutnya nanti di masa depan gue akan butuh lagi, toh gue juga kan nggak tau akan ada kebutuhan apa di masa depan.

“Gue nggak bisa dapet pinjaman bank tapi pasangan kan bisa,” iya sih tapi kayaknya agak nggak bikin tenang juga gak sih kalo gue sepenuhnya berserah pada pasangan? Gimana kalo (amit-amit) terjadi sesuatu pada pasangan?

 

Prenup Cuman Untuk Properti dan Harta?

Alasan terakhir yang gue takutnya belom kepikiran sekarang adalah “Selain harta ada apa lagi yang bisa dimasukin ke prenup??” Sejauh ini yang gue tau selain harta dan properti gue nggak kepikiran hal lain. Selain properti, berikut ini hal hal yang bisa dimasukan dalam prenup:

  • Melindungi kita dari hutang pasangan.
  • Mendetil kewajiban apa aja yang kita punya selama dalam pernikahan dalam hal keuangan misalnya pembiayaan kalo kita berhenti kerja untuk urus anak, atau pembayaran kartu kredit, atau pengelolaan keuangan.. Ya Financial Obligations During the Marriage gitu.
  • Harta-harta apa saja yang akan menjadi harta bersama (dan dibagi bila bercerai) atau yang menjadi harta pribadi.

Terus nggak kepikiran lagi. Ada yang bilang prenup bisa ngatur hak asuh anak bila bercerai, tapi ada yang bilang nggak bisa karna hak asuh anak ditentukan di sidang.

YA TAPI ITU JUGA KALO BERCERAI. Kita sih pengennya nggak cerai ya, tapi jalan hidup manusia nggak ada yang tau, kalo pasangan tetiba berubah jadi psikopat kan kita mau nggak mau harus cerai toh. (and yes, that might be the only reason for me to ever consider divorce)

 

Jadi, Butuh Prenup apa Nggak?

NGGAK TAU. TETEP.

Yang jelas, ada orang orang yang pasti butuh prenup, misalnya:

  • Orang yang punya bisnis sendiri, karna berresiko harta bisnis disangkut sangkutin sama harta gono-gini.
  • Orang yang punya hutang besar (di bank ataupun pihak lain), takutnya pasangan terseret. Gue punya hutang koperasi tapi kebetulan juga punya cukup uang untuk ngelunasinnya sekarang, cuman belom aja. Jadi I will soon be debt-free.
  • Orang yang penghasilannya jauh lebih besar dibandingkan pasangannya. Pemisahan harta pribadi dengan marital property itu berguna untuk ngelawan orang orang yang nikah cuman demi harta aja terus besokannya cerai biar dapet harta gono gini. Tapi berhubung gue dan pasangan adalah kaum menengah ngehe yang nggak segitu besarnya penghasilannya, jadi nggak tau deh butuh atau nggak ya. LOL

 

SO THAT’S IT!

Butuh nggak butuh prenup, gue masih nggak tau dan belom bisa memutuskan. Kayaknya gue harus discuss lagi dengan Tomokun. Kalo butuh ya dibikin meski agak repot sedikit sih. Gw nggak tau kalo ngurus prenup itu si Tomokun nya harus ada di sini juga apa nggak ya? Atau ngurus prenup nya di Jepang aja ya?

Tapi kalo dirasa nggak butuh ya kayaknya ga apa apa juga sih. Idk. We’ll see.

Advertisements

7 comments

  1. Kev d'Salvo · July 7, 2017

    Kalo sesama WNI prenup memang mostly about harta. Tapi baru tau kalau dalam kasus WNA, prenup itu ngefek ke kepemilikan properti. Dan prenup biasa hanya “aktif” bila terjadi perceraian. Sedangkan prenup WNA yang kamu sebutin itu, sudah aktif “sebelum” perceraian. Keberadaan prenup jadinya memberikan kamu hak2 yang akan hilang tanpa prenup.

    Pengalaman dan pengamatanku, it doesn’t hurt to mitigate risk. Prenup bukan ttg cinta atau tidak. Tapi tentang mengurangi risiko yang mungkin terjadi, dan mencegah kamu terjebak situasi dengan pilihan terbatas. (I’ve been or currently in these kinds of situations, it’s really ugly) Satu2nya downside yang kulihat dari prenup adalah butuh money (lawyer?) tapi itu worth it dengan peace of mind untuk berpuluh tahun ke depan. including your future children too.

    FYI most Indonesian muslims (including myself) automatically use a default prenup called sighat taklik.

  2. Kev d'Salvo · July 7, 2017

    🙂

  3. RedZzdeLady · July 7, 2017

    mahal kah ngurus prenup?

  4. Kev d'Salvo · July 7, 2017

    Unfortunately I don’t know. Pengalamanku hanya dengan sighat taklik yang biayanya negligible, dan isinya pun sudah standar se-nasional, saking pendeknya bisa dibacakan saat akad nikah: http://m-alwi.com/bacaan-sighat-talik-setelah-akad-nikah.html

    A “real” prenup, I suppose, perlu dirumuskan bersama notaris, dan ini diperlukan karena dokumen prenup tersebut harus dinyatakan memiliki kekuatan di mata hukum. Jadi yang bikin mahal bayar notarisnya untuk merumuskan isi prenup tersebut dan mengeluarkan akte, yang arsipnya disimpan di notaris, dan sifatnya permanen dan tidak bisa diubah seumur hidup. I’m sure you’ve done your homework tp dari satu sumber (https://nonikhairani.com/2013/04/09/prosedur-pembuatan-perjanjian-pranikah-prenup/) dia cukup beruntung “cuma” bayar 500rb (2013). So kayanya normalnya beberapa juta kecil.

    As she said there, “Beberapa temen yang menikah dengan WNA sampai saat ini bahkan keinginan mereka untuk memiliki property di Indo terjegal karena tidak memiliki prenup. So….sebelum terlambat kita buat ajalah ya toh niatnya gak jelek juga sih.” In any case the safest path is make a prenup, apalagi Tomokun ga keberatan kan? Yang repot adalah kalo pasangan keberatan sedangkan ini ada efeknya dengan hukum properti di Indonesia (bukan hanya urusan gono-gini pribadi).

    Biasanya orang butuh prenup untuk menjaga posisi ga enak saat cerai. Tapi buat RedZz coba bayangin kondisi seperti ini, ternyata in case kalian masih tinggal di Indonesia dan kamu punya uang buat beli properti, yang bagus banget, strategis, ok, dsb. Karena ga punya prenup akhirnya terjebak dengan 3 pilihan yang semuanya ga enak:
    1) Cerai dulu, baru beli, sambil bikin prenup trus nikah lagi (omg..)
    2) Nyuruh orang lain yang “pure WNI” beliin properti tersebut pakai uangmu, dengan perjanjian terpisah agar kamu (dan ahli waris?) tetap dapat menggunakan properti tersebut
    3) Ga jadi beli seumur hidup (atau sampai cerai)

    Aq juga penasaran, apakah prenup itu ada efeknya terhadap “kemampuan” ahli waris (anak) untuk menerima warisan (khususnya properti) dari ortunya, krn ada kemungkinan anakmu WNI tapi bisa juga WNA ya? Seems tens of years into the future ya, but that’s what laws do, they take effect when you’re not even here anymore.

  5. RedZzdeLady · July 7, 2017

    Tentang “kemampuan” ahli waris (anak) untuk menerima warisan (khususnya properti) dari ortunya, itu tergantung anaknya WNA atau WNI. Anak dari perkawinan campur Indo-Jepang punya dua kewarganegaraan sampai usia 18tahun. Setelah usia 18thn, ybs pilih mau jadi warga negara mana. Ketika dia pilih jadi WNA, maka nggak bisa terima properti. Kalau dia pilih jadi WNI, maka bisa terima properti.

    Well I understand it might be the safest way. Sekarang yang bikin Rz agak sedikit reluctant itu bukan karena soal enak ga enak ngebahas cerai nya, tapi karena repot HAHAHAHA MAAF RZ ANAKNYA MALES REPOT. Kalo Rz nggak bisa beli tanah, at least bisa punya hak guna bangunan (di apartemen misalnya) and that would be enough. Tapi memang ini pemikiran Rz saat ini ya, nggak tau 10-20 tahun ke depan apakah akan berubah pikiran dan pengen beli rumah. Kalo untuk sekarang karna nggak merasa butuh rumah (pingin keluarga kecil dan praktis aja) jadi masih ragu. :-/

  6. Kev d'Salvo · July 7, 2017

    I think it’s pretty much repot both ways. Bedanya adalah repot sekarang+sedikit+risiko kecil vs nanti+banyak+risiko besar.

    I agree that *may be* SHGB cukup bagimu, tapi ada chance juga you might change your mind atau ada opportunity yang muncul di masa depan. Misal kamu bisa beli tanah buat dikontrakkan atau dikoskan. Atau buat ruko. So bukan hanya keperluan rumah tinggal pribadi. (atau dpt warisan properti dari keluarga?)

    Aku juga, andai rumah ini sudah lunas (aamin) dan aq bisa beli lagi maka rencananya yang pertama bukan dijual tapi dikontrakkan aja sehingga bs jadi passive income.. (baru rencana)

    Pengalamanku dengan notaris PPAT (kredit rumah) tidak repot. Basically mereka sudah punya templatenya. Yang repot adalah kalo suka custom-custom. Tp mgkn km hanya perlu safety di sisi properti tadi maka km bisa langsung terima aja template dari notaris, ttd, bayar, done.

  7. RedZzdeLady · July 7, 2017

    Will look more into it. Cari temen yang jadi notaris dulu. Hahahaha thanks Kev

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s