Pengalaman Pacaran sama Orang Jepang

Disclaimer: Post ini adalah tentang pengalaman pribadi saya pacaran sama orang Jepang (Tomokun). Jangan diartikan semua pria Jepang pasti sama dengan Tomokun, karna kebaikan-kebaikan dia mungkin aja nggak ada hubungannya sama kewarga-negaraannya. Orang Jepang yang brengsek pasti ada juga, cuman kebetulan saya dapat yang baik banget.
Baca juga: Di Balik Romantisme Berpacaran dengan Orang Jepang untuk kenyataan dan konsekuensi di balik yang manis-manis yang kelihatannya terjadi.

Sebelum saya memulai hubungan dengan Tomokun, saya belum pernah dekat dengan orang Jepang lainnya. Karna saya bukan tipe orang yang penggemar anime atau kebudayaan Jepang lainnya. Ketika baru kenal Tomokun, saya nggak ngerti sama sekali dengan budaya Jepang. Jadi, post ini murni hanya berdasarkan pengalaman pribadi saya dengan satu orang saja, ya. 🙂

Saya akan bercerita mengenai topik-topik kecil seputar stereotype yang orang orang miliki tentang orang Jepang. Kalau kamu punya pertanyaan khusus seputar pengalaman pacaran dengan orang Jepang, sila tinggalkan di kolom komentar dan akan saya coba jawab di post lain ya 🙂


Mitos atau Fakta: Orang Jepang Tidak Intim dengan Pacarnya?

Kata orang, orang Jepang itu dingin dan tertutup. Salah satu tante saya malah dengan terbuka bilang kasihan sama saya karena dapetnya orang Jepang. Katanya, saya nggak akan bahagia karena orang Jepang itu dingin dan kasar, dan nggak sayang sama pasangan. Hehehe 😀 Yaa, ada benarnya dan ada nggaknya.

Bahas yang bagian nggaknya dulu ya.

Tomokun termasuk cowok paling sweet yang pernah gw temuin. He’s SO sweet and sincere, and I love that about him. Kalo tidur, dia nggak bisa nggak nyentuh (tapi bukan grepe-grepe ya). Pasti harus pegang tangan, atau kepalanya nempel ke bahu saya, atau sambil spooning, pokoknya harus ada sentuhan. Kalo duduk di taxi juga gitu, at least bahunya harus sentuhan, dan dia juga pasti minta tangan saya untuk dipegang.

YES, MINTA. Dia lebih sering minta tangan saya daripada langsung main pegang aja. Bahkan ketika pegangan tangan pas jalan-jalan di mall juga, dia lihat ke bawah dulu, minta tangan saya, daripada langsung samber aja. That’s a small gesture but I always love it.  Ada beberapa hal manis lainnya yang dia lakukan (dari awal sampai sekarang) yang bisa dilihat lebih lengkap di post saya yang lain.

Nah. Masuk ke bagian iya nya.

Menurut saya ada benarnya kalau orang Jepang punya lingkungan yang lebih “ekslusif” dan sulit dimasuki. Saya melihatnya sebagai pemisahan yang cukup jelas antara kehidupan pribadi dengan kehidupan berpasangan.

Selama beberapa saat di awal hubungan saya dengan Tomokun, saya sempat merasa seperti “rahasia pribadi” nya. Contoh kecil yang kurang penting adalah dia nggak ngganti status relationshipnya di Facebook karena dia nggak mau orang kantornya tau dia udah punya pasangan.

Bahkan dia juga sempat nggak mau gandengan ketika ada orang lain. Jadi gandengannya pas lagi berduaan aja, sementara kalau lagi sama temennya nggak gandengan. Entah kenapa, apa mungkin malu? Pas ditanya sih jawabnya “Because I don’t trust them that much.”

Yang unik lagi adalah tentang undangan-undangan, termasuk undangan pesta pernikahan.Jadi menurut budaya Jepang, kalau yang diundang hanya si laki, maka pasangannya nggak boleh ikut. Nggak peduli pasangannya itu pacar atau bahkan sudah jadi suami-istri pun. Beda banget kan dengan pesta nikahan di Indonesia? Kita malah gebetan aja diajak. Kalo udah berkeluarga kadang malah ngajak anak-anaknya juga sekalian. Mumpung makan gratis.

Nah ngerti nggak sekarang tentang ekslusifitas yang saya maksud tadi? Jadi orang Jepang bukannya dingin sama pasangannya. Hanya saja, ada waktu dan tempatnya yang sesuai untuk berhangat-hangatan.

Baca juga: Di Balik Romantisme Berpacaran dengan Orang Jepang untuk kenyataan dan konsekuensi di balik yang manis-manis yang kelihatannya terjadi.

 

Mitos atau Fakta: Orang Jepang Tidak Pingin Punya Pacar dan Menikah?

Menurut saya ini ada hubungannya dengan etos kerja yang dimiliki orang Jepang kebanyakan. Kebanyakan dari mereka konsen kerja, dan karena sudah punya pencapaian-pencapaian di luar hubungan romansa, akhirnya nggak terlalu buru-buru untuk mengejar romansa. Bagian itunya bener. Tapi bukan berarti mereka nggak mau pacaran atau nggak mau menikah, kok.

 

Memang teman-temannya Tomokun hampir semuanya belum menikah, tapi bukan karena nggak mau. Kalo saya sih liatnya karena mereka menyiapkan diri dulu. Kalo belum siap maka nggak mau memulai komitmen sebesar pernikahan.

Saya pernah tanya tentang ini ke Tomokun, jawabannya katanya paling pertama adalah masalah finansial. Iya sih, di Jepang memang semua kebutuhan harganya tinggi, jadi memang untuk hidup sendiri aja sulit, apalagi mau bangun keluarga 😀

Tapi bukan berarti mereka nggak mau menikah ya. Hanya saja memang nggak buru-buru. Balik lagi ke tanggung jawab diri sendiri. Kalo merasa nggak bisa, ya jangan dimulai. Gitu mungkin.

 

Mitos atau Fakta: Orang Jepang Nggak Bisa Bahasa Inggris?

Ketika orang-orang tau pacar saya adalah orang Jepang, kebanyakan mereka pasti tanya, “Terus ngobrolnya pake bahasa apa?” Jawabannya, bahasa Inggris. Karna Tomokun pernah kuliah di Amerika, bahasa Inggrisnya lancar banget. Kami belum pernah bermasalah dalam penggunaan bahasa sih sejauh ini.

Tapi memang, kebanyakan teman pasangan saya nggak bisa berbahasa Inggris. Kalaupun ada yang bisa, tapi nggak lancar dan menurut saya nggak bisa membangun hubungan dengan kemampuan bahasa Inggris yang seperti itu. Kebanyakan orang Jepang lebih bisa bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris, tapi bahasa Indonesianya juga nggak fluent. Kalau memutuskan untuk pacaran sama orang Jepang harus siap siap pengertian yang tinggi. 🙂

Tapi, saya juga mulai belajar bahasa Jepang. Sebetulnya Tomokun sendiri nggak pernah suruh saya untuk belajar bahasa Jepang. Saya tetap belajar karena untuk kepentingan diri saya sendiri kalau nanti tinggal di Jepang. Menariknya, menurut Tomokun ada satu-dua temannya yang iri karena pasangan temannya nggak mau belajar bahasa Jepang. So ladies, kalo kamu memang punya pasangan orang Jepang ada baiknya belajar bahasanya juga. Selain untuk kepentingan kita sendiri, juga agar pasangan senang. 😉

 

Mitos atau Fakta: Orang Jepang Kasar Terhadap Pasangannya?

Dua tahun pacaran dengan orang Jepang, belum pernah sekalipun dipukul. Jangankan dipukul, Tomokun kalo megang saya tuh udah kayak megang barang halus, takut jatoh takut pecah. Misalnya ketika belai belai rambut, atau gandeng tangan. Kami nggak pernah kitik-kitikan sampe bergulat, dia bahkan nggak pernah mukul pantat buat bercandaan.

Jadi buat saya, ini mitos.

However, ada satu kesamaan pasangan saya dengan teman-teman Jepangnya ketika mereka marah atau kesal, biasanya tindakannya agak ekstrim. Ada yang ekstrim dengan ugal-ugalan pas nyetir, ada yang ekstrim dengan membatalkan semua rencana, ada yang diam aja tapi abis itu ngirim text panjang lebar tentang kekecewaannya. Tomokun sendiri termasuk yang kedua.

Misalnya kalo … Misalnya pernah ada kejadian, Tomokun ngadain event di Bali. Tapi dia nggak tau, ternyata hari pertama event itu waktunya bertepatan dengan Nyepi. Gak ada yang dateng dong ya otomatis… Dia marah karena staff nya yang semuanya orang Indonesia harusnya tau jangan bikin event di Bali kalo hari Nyepi. Tapi staffnya tetep bikinin event tersebut di hari Nyepi, dan pas ditanya kenapa ga ada yang dateng mereka malah ketawa.

Nah karena dia murka, akhirnya dia terbang pulang ke Jakarta ninggalin semuanya. Biar kata abis itu masih ada jadwal lainnya, biar aja staff dia yang beresin karna dia udah kzl. Ekstrim ya? Tapi itu sih emang staffnya dia yang keterlaluan hehehe.

Kalo sama pasangannya sih Tomokun nggak kayak gitu. Jadi, kalo ada orang yang bilang pacaran sama orang Jepang bakal dipukulin atau ditetesin lilin panas hahahaha kebanyakan nonton hentai kayaknya. Perlakuan Tomokun ke saya sangat baik selama ini, dia nggak pernah macem-macem dan nggak pernah kasar sekalipun. 🙂

Baca juga: Di Balik Romantisme Berpacaran dengan Orang Jepang untuk kenyataan dan konsekuensi di balik yang manis-manis yang kelihatannya terjadi.

Segitu dulu yaa, obrolan kita kali ini. Ntar akan update lagi kalo keinget lagi 🙂 Semoga berguna.

Advertisements

18 comments

  1. ima · May 12

    hi. ka saya ima, saya punya banyak problem dengan cowok jepang saya, bisakah saya minta email kaka, untuk sekedar sharing? terima kasih

  2. RedZzdeLady · May 12

    Hi Ima, tanya tanya tentang relationship bisa via askfm ya, di: http://www.ask.fm/redzzdelady

  3. Uni · June 16

    Ka sekarang aku punya pacar orang jepang, tapi saya selalu galau kalo dia lagi sibuk, bener” ga mau diganggu, wa aku aja engga.. Aku bingung sebenernya dia emang sibuk atau sudah bosan ya.. Ka ada kontak kk ga? Aku mau sharing, atau email kk, mkasih ka

  4. RedZzdeLady · July 13

    Hai kak Uni, kemarin dulu udah pernah LINE ya? Kalo masih ada pertanyaan boleh via ask fm ya, di http://www.ask.fm/redzzdelady

  5. wulan · July 18

    Aku baru Deket sama orang Jepang jujur pengalaman pertama, awalnya aku coba breaking the ice cuma dia jawab seperlunya aja..nah aku sempat nggak chat lagi almost a week, suddenly dia wa aku duluan ngabarin kali dia ada di Tokyo skrg. Susah banget minta foto dia,but in the end dia kasih…wah senangnya, kita chat normal aja and aku tetep kasih perhatian ke dia…last chat aku bilang be safe always and dia kirim foto di Tokyo yg ada bulannya dan perkantoran tinggi, aku sempat komen bulannya indah, besoknya dia langsung jadiin DP untuk wa profilenya. Aku kegeeran banget sumpah, aku suka karena dia nggak kecentilan cuma kadang kadang aku juga ragu dia suka sama aku, komunikasi kita sll jarang tapi aku tetap selalu kirim foto aktivitas aku hari hari, aku pernah tanya sih kalo aku ganggu kasih tau yah, dia cuma jawab “don’t worry” tapi yah gitu kadang lsg dibalas kadang nggak sampai 2 hari..terus beberapa hari terakhir aku ada kerjaan yg kerjaannya nyambung sama dia so kita lebih sering chat tapi yah soal kerjaan, again kalo soal chat pdkt jarang banget. Pernah sih dia kasih perhatian perhatian kecil spt ketika aku Drive larut malam dia tanya masih dijalan? If yess, hati2 dijalannn #gitu smsnya. Terus pernah juga dia kaya ngisengin aku, seperti ketika bahasa Indonesia dia salah aku koreksi terus dia appologize dia bilang belajar dari conversation,berartikan cewek Indonesia yg dia chat bukan cuma aku gitu. aku maklum sih terus aku bilang wajarlah kamu banyak teman INDONESIA nah kalo aku baru kamu pertama dan satu2nya jadi belajarnya di google translate, eh dia kirimin emo yg aku pikir bahasa kanji nggak taunya bahasa Chinese, dia kayak ngeledek aku gitu sambil ketawa. Senang sih cuma nggak mau baper…apakah mungkin dia suka aku??? Soalnya yakin kalo seorang CEO spt dia gaijinnya banyak pasti

  6. RedZzdeLady · July 18

    Hai Wulan, kalau bisa jangan terlalu geer dan baper. Hati-hati terbang ketinggian ntar jatuhnya sakit 🙂

  7. shiroyuki · July 22

    Haloo, pas banget aku nemuin blog ini kak.
    aku juga lagi in relationship sama cowo jepang aku, baru jalan satu tahun setengah, awalnya dari temen indonesia aku yang kenalin dia ke aku. dia cowo jepang pertama yg aku kenal, super baik, dan sopan banget pas kita jalan bareng di Osaka. hampir mirip karaktenya sama cowo kaka.
    cuma sekarang kita jadi LDR karna dia disana dan aku udah di Indonesia jadi tiap hari kita cuma chat, call, video call aja. but, next month dia bakal ke Indonesia buat trip. cant wait to meet ^_^. aku mau nanya nanya dan share juga dong ke kaka, need your email kak. arigato~

  8. RedZzdeLady · July 22

    karna saya ga mau terlalu personal, jd kalo ada pertanyaan, via ask fm aja yaaa. linknya di: ask.fm/redzzdelady 🙂

  9. Hadego · August 14

    Kaka, aku lagi pacaran sama orang jepang udah jalan setahun, kadang kita suka argumen kalo ketemu dan dia minta aku buat belajar budayanya. Aku mw nanya nih ka, apa kalo pacaran sama org jepang ktmuny gak sering dan mereka selalu to the point kalo ngomong?

  10. RedZzdeLady · August 21

    Hello Hadego.. sebetulnya pacaran sama orang Jepang nggak beda jauh dengan pacaran sama sesama WNI. Tapi tingkat kesulitannya lebih tinggi karena beda budaya dan perlu banyak-banyak pengertian. Mengenai “nggak sering ketemu” dan “selalu to the point”, itu tergantung orangnya aja, nggak terkait sama kewarga-negaraannya. Karna aku yang WNI aja selalu to the point kok 🙂

  11. hadego · September 4

    ci, kita kan jarang ketemunya palingan sebulan sekali itupun dinner sambil ngobrol. dy minta aku bwt selalu ngabarin ke dy setiap hari, aku ikutin lah mauny dy.. tapi dy jarang ngabarin aku palingan cma selamat pagi gtu.. dy kan gila kerja bgt dari pagi sampe midnight kadang masig krja.. kadang aku merasa dy ga merhatiin aku n ga sayang ke aku.. ada advisenya ga cici bwt aku dari pengalaman cici pacaran sama tomokun..

  12. RedZzdeLady · September 4

    Ngomong langsung aja sama orangnya kalo kamu merasa seperti itu. Lalu lihat solusi dari dia apa.

  13. Ikkyukun · September 5

    Hai thanks banget untuk sharingnya. Banyak banget info yang bisa jadi referensi lebih lanjut. Btw mau sharing sedikit mengenai pasangan gw yang juga dari jepang. Bedanya adalah gw WNI cowok.

    Ada betulnya bahwa orang jepang gila kerja dan “kurang perhatian” ketika sedang sibuk dengan aktifitasnya sehari hari. Pengalaman sejauh ini dia selalu memberikan salam di pagi hari via chat dan that’s it. Dia harus kerja seharian dan pulang cukup larut. Perhatian yang bisa gw balas adalah hampir selalu menjemputnya dan nemenin dinner entah kita masak sendiri maupun spend time together di luar.

    So far pengalaman dengan doi semuanya cenderung romantis dan sangat indah. Doi orang yang kreatif dan kita banyak melakukan hal kocak dan aneh yang gw pribadi belum pernah lakuin dengan ex gw like joged-joged, nyanyi karaokean berdua pakai lagu indonesia dan jepang, maen hal-hal yang ga umum seperti permainan tradisional kita maupun janken. Well sounds bit childish tapi emang itu bkin suasana cair terus dan semua rata rata ide dia.

    Di saat free time dia akan banyak spend waktunya untuk istirahat karena kerjaan terlalu melelahkan, shopping sendirian, ajakin hang out ke tempat yang dia belum pernah sebelumnya, spend waktu berdua atau just calling/text like missing me really alot.

    Yang ngebikin agak cape adalah sometimes dia moody dan bisa berubah jadi super cuek dan malah kadang kangen banget like I have to visit her at 1 am in the morning. Lol.

    Other difficult part adalah segi komunikasi. Bahasa inggris dia biasa saja dan keterbatasan vokab walaupun pernah studi di luar. Namun so far bisa nangkep maksud gw. Indonesianya kurang lancar masih minim. Dan dia butuh partner bisa bahasa jepang. On the other hand nihongo gw nol dan masi belajar dari scratch tapi dia ga mau ngajarin karena terlalu cape. Jadi kadang komunikasi kita berdua musti saling sabar dan pelan pelan.

    Hal terberat adalah faktor agama dan orang tua. Agama kita berbeda dan dia ga mau pindah ke agama gw kalau mau serius menikah. Hal yang lain adalah orang tua dia tidak mengijinkan dia menikah dengan gaijin. Padahal gw serius banget ama doi. Bisa dibilang gw udah cinta mati banget ama dia. Kita sempet break karna faktor bonyok dia namun putusin untuk balikan waktu dia balik ke indo.

    Gw sekarang cuman punya waktu sekitar hampir 2 taun untuk bisa nentuin semua ini arahnya kemana karna setelah itu dia bakal balik total ke jepang.

    Dilematis banget ya.. Tapi gw belum pernah jatuh cinta sedalam ini.. Butuh saran apa yang bisa gw lakuin.. Karna klo dari sudut pandang gw beneran banget pengen nikah dengan doi..

  14. RedZzdeLady · September 7

    Hello Ikkyukun. Menurut gue menikah itu nggak bisa didasari oleh perasaan cinta aja. Karna perasaan cinta mau sedalam apapun juga suatu saat pasti kebas juga.

    Kenapa orang tua dia nggak setuju dia nikah sama gaijin? Gue jamin alasannya baik sebenernya. Terutama gaijin south-east asia yang memang terkenal suka fake-marriage cuma biar bisa diajak ke jepang aja kemudian leha leha. Konotasi kita emang negatif. Gue dan pasangan gue juga ngalamin resistensi yang serupa.

    Jujur aja, coba kita lihat aja keadaan u sekarang.
    1. Nihongo nol. Kalau ke Jepang mau kerja apa? Masa mau bergantung sama istri?
    2. Komunikasi sama pacar juga nggak lancar. Kalau ngomong aja susah gimana mau berumah tangga? Orang yg bahasanya sama aja banyak yang berantakan keluarganya, apalagi yg bahasanya beda.
    3. Orang tua dia menolak. Kalo gue jadi ortu dia juga pasti gue nolak lah, wong keadaannya nggak ideal.

    Kalau u memang bener mau serius, gunakan perasaan cinta lo yang mendalam itu untuk motivasi untuk BUKTIIN. jangan ngomong doang tapi buktiin. Dalam dua tahun bisa nggak fasih bahasa Jepang? Gue yakin bisa. Gue yang belajarnya sempet males-malesan aja dalam 2thn bisa N4. Kalau u serius, mungkin bisa N3 atau N2. Semakin fasih semakin baik.

    Menurut gw ini “core problem” nya antara u dengan dia. Kalau komunikasi sudah baik dan lancar, dan u juga punya modal untuk bekerja di Jepang nantinya (which is bahasa lu), plus point kalau lu punya tabungan yang cukup untuk biayain diri sendiri di sana selama sebelum dapet pekerjaan, gue yakin lo berdua bisa lancar menikah.

    Tapi ga usah bahas agama. Nikah di Jepang ga perlu agama kok. Dia nggak maksa lu jadi buddhist kan? Lu juga jangan maksa dia jadi ikut agama lu.

    Gitu. Semoga membantu.

  15. Cahyo · 17 Days Ago

    Mlm sis sya tgal d jpang dn dket sm cew jpang gmn ya cra ungkapin prasaan yg tepat, soalnya stlh aku ajk kluar mkan mlm trus akumau ajk k tmpt yg tenang untuk ungkpin dianya g pnh ngeh gtu, msa aku hrus ungkpin lwat chat or tlp?
    Ksi sulusi ya, onegaishimasu…

  16. RedZzdeLady · 15 Days Ago

    Saya ragu perempuan tersebut mengerti maksud Anda. Karena saya yang sesama menggunakan bahasa Indonesia saja kesulitan membaca maksud Anda. Silahkan gunakan artikulasi yang jelas ketika berbicara maupun menulis, agar maksud Anda tersampaikan dengan jelas dan agar pembaca / pendengarnya menjadi “ngeh” dengan apa yang Anda coba untuk ungkapkan. Good luck.

  17. inds · 13 Days Ago

    Selamat siang, saya sedang cari-cari topik semacam ini, terus kebetulan mampir ke blog mba Redz ini.
    Kebetulan saya sekarang sedang menjalin hubungan dengan cowok Jepang, karena kebetulan saya sedang sekolah di Jepang. Berbeda dengan saya yang sedang menempuh studi, cowok saya ini seorang Salary-man lulusan S1 di perusahaan yang kecil. Sejauh ini kami ngga ada kendala dalam komunikasi, frekuensi ketemu, atau masalah interpersonal semacam karakter dsb. Kami sama-sama memiliki goal untuk menikah, hanya saja saya merasa ragu karena cowok saya ini hanya seorang salary-man yang gajinya dibawah UMRnya Jepang. Dan kekhawatiran ini membuat orangtua saya jadi “kurang restu” terhadap hubungan kami. Apalagi status saya di Indonesia bisa dikatakan lebih tinggi daripada status dia. Menurut pandangan mba Redz, apakah perbedaan status secara finansial dan sosial buat orang Jepang sangat berpengaruh dalam berumahtangga seperti halnya di Indonesia?

  18. RedZzdeLady · 13 Days Ago

    Hai kak Inds. Sejenak coba lepas dari status, dan lepas dari perbedaan ras. Jawab hal berikut dengan jujur, jangan jawab dengan harapan:

    Apakah Anda dan pasangan derajatnya setara, bisa bekerja sama dengan baik, bisa mencari uang bersama (krn gaji di bawah UMR dia pasti kurang untuk hidup berdua kan?), punya values / nilai nilai yg dipegang teguh yang selaras, dan selera humor yang cocok?

    Katakanlah Anda tidak puas dengan keadaan pasangan Anda sekarang. Apakah Anda bisa menyarankan padanya untuk memperbaiki diri, apakah dia punya keinginan sendiri untuk memperbaiki diri, dan apakah besar chance nya untuk dia benar-benar meningkatkan standard hingga memenuhi permintaan Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s