Conflict Management dalam Hubungan

Dalam sebulan belakangan ini, Tomo kun lagi agak sibuk. Kebetulan karna dia saking sibuknya, ada tiga kejadian yang terjadi yang menurut gw resiko konfliknya termasuk besar (alias, seharusnya bikin berantem). Tapi kami nggak berantem, tenang aja. Kebetulan dalam tiga kejadian ini gue (dan dia) bersikap tenang dan kepala dingin, jadi nggak ada yang perlu diperdebatkan atau dipermasalahkan.

Tapi gue cuman mikir aja sih, kalo pasangan lain yang dihadapkan pada situasi gw dan Tomo kun ini, kemungkinan besar akan berantem. So, I thought I’ll just post how I managed my emotion through these three situations.

 


 

1. Batalin Janji Tiba-Tiba.

Hari itu hari Selasa. Sebenarnya gue udah ada janji untuk ketemuan sama Tomo kun sepulang kerja, tapi karna hari itu sibuk banget, sampe jam 4an gue masih terkurung dalam ruang meeting. Dan gue pun memutuskan untuk chat dia untuk ngabarin kalo gue mungkin ke sana nya telat. (Biasanya gue sepulang kerja langsung nyamperin dia ke kantornya, karna dia pulang kerja nya lebih telat sejam dari gue)

Ga taunya, Tomo kun tiba-tiba bilang kalo dia juga lagi sibuk banget, ada terlalu banyak hal yang harus dilakukan. Dia bilang dia harus lembur dan nggak bisa keluar.

At first I was like, “Oke, lembur sampe jam berapa?” Siapa tau masih bisa ketemuan untuk makan malem aja kan lumayan. Tapi dia bilang dia kayaknya baru bisa selesai jam 8an, dan dia capek banget, mau langsung pulang aja. Jadi, nggak jadi ketemuan deh.

“Ok, so I go straight home then?”

“Yes, I’m sorry.”

“It’s okay, I know that if you have the choice, you’ll choose me.”

And that’s it. No conflict at all.

Padahal janjinya dibatalin bener-bener 5 menit sebelum waktu janjian.

 

2. Fixing Priorities

Kejadiannya intinya sama sih, batalin janji juga. Kali ini, janjian di hari Minggu untuk ketemu hari Selasa, tiba-tiba hari Senin dia bilang dia hari Selasa harus ketemu Rony kun. Rony kun itu temen baiknya dia sekaligus partner bisnis, dan gue juga kenal sama Rony kun. Orangnya sibuk pake banget, dan jarang banget ada waktu untuk ketemuan. Dan kali ini mereka ada perlu untuk meeting bisnis.

“..So I can’t see you tomorrow. I’m sorry.”

“It’s okay, I understand. Rony kun is so busy, so when he has time, he’s a priority. So we meet Wednesday?”

“Absolutely.”

Aaaaand that’s it again. No conflict at all. Gue sama sekali nggak ngerasa marah, karna gue tau dan percaya Tomo kun. Pertama: Kalau nggak terpaksa, dia nggak akan batalin janji sama gue. Kedua: Rony kun memang temen baik Tomo kun sejak sebelum Tomo kun kenal gue. Dan gue ngerti posisinya, gue nggak ngerasa saingan rebutan sama Rony kun karna dia memang orang yang sibuk dan jarang ada waktu.

Gue malah dukung banget kok persahabatan antara Tomo kun dan Rony kun. Pikiran gue jernih, jadi gue nggak marah, kesel, ataupun kecewa sama sekali. Gue malah bilang sama Tomo kun kalo gue memang sempet bertanya-tanya kabar Rony kun, dan gue seneng mereka akan ketemuan, karna dengan begitu Tomo kun jadi bisa ngecek keadaan Rony kun. Hehe.

 

3. His Free Time.

Sebagai pacar dari seorang atasan yang sibuk dan sering keluar negri, tiap Tomo kun ada di Indo, gue selalu pengen ketemu. Mumpung ybs lagi di Indo. Minggu kemaren kami hampir tiap hari ketemuan, jadi pas hari Minggu kemaren dia bilang dia mau maen game sendirian di rumah hari Senen. So, kemaren (Senen) gue nggak ke rumah dia dan gue sendiri juga pulang ke rumah gue. Waktunya me time.

Tiba-tiba ketika gue baru sampe rumah, gue terima text dari Tomo kun, bahwa dia akan ke rumahnya Vlad.

Vlad ini adalah salah satu pegawainya Tomo kun yang memang hubungan mereka juga termasuk dekat sekali, kayak Tomo kun sama Rony kun. Gue sendiri juga sering banget hang out bareng Vlad, kadang bertiga, pernah juga berempat sama istrinya Vlad. Vlad dan Tomo kun kayak sohib, yang bikin gue agak jealous karna mereka ngabisin banyak (banget) waktu bersama-sama. Di kantor, ketika perjalanan bisnis keluar negri, after office, dan sekarang bahkan alone time nya Tomo kun pun dihabiskan bersama Vlad (dan istrinya Vlad).

Yep, I was jealous.

Yep, I wasn’t happy and supportive.

Gue cuma bilang sama Tomo kun untuk have fun and don’t get too drunk, tapi gue nggak ngebiarin emosi gue dikeluarin mentah-mentah melalui protes ataupun suruh dia jangan pergi. Ketika gue marah itu gue merasa bahwa, Tomo kun sedang akan pergi ke rumah temannya. Seharusnya Tomo kun have fun. Dan dia nggak akan bisa have fun kalo dia tau gue ngerasa nggak seneng. Dia akan khawatir kalo tau gue ngerasa jealous atau marah.

Padahal, gue maunya dia have fun. Jadi kesimpulan gue adalah gue nggak ngasih tau dia gue marah. Gue biarin aja dia pergi dengan kalimat “Have fun then”.

Begitu dia sampe di TKP, dia ngasih foto pemandangan di balkon nya Vlad, dan foto makanan yg dimasakin sama istrinya Vlad. Gue cuma jawab seadanya karna gue masih emosi dan marah. Bahkan gue ngerasa pengen banting HP, which of course nggak gue lakukan.

Instead, gue pasang earphone dan dengerin lagu sambil mewarnai. Iye mewarnai. Ngewarnain ini nih:

12547694_1657785224510145_501780933_n.jpg

Sambil ngewarnain ini gue banyak mikir tentang keadaannya. Kenapa gue marah? Kenapa gue jealous? Jelas gue nggak merasa terancam, karna Vlad (dan istrinya) bukan ancaman buat gue. Gue tanya ke diri gue sendiri, apakah gue merasa kurang di-prioritas-kan? Padahal di banyak kejadian, Tomo kun selalu mem-prioritas-kan gue kok, jadi kenapa satu kejadian ini bisa sampe bikin gue ngerasa kesel, marah, dan pengen nangis? Gue sempet ngecek kalender untuk liat tanggal PMS gw.

Gue inget banget gw masih 16 hari lagi sampe next period, which means it was only 12 days after my previous period, yang artinya gue (seharusnya) lagi nggak PMS. Mood gue harusnya stabil.

Gue akhirnya hanya menyimpulkan bahwa gw jealous karna merasa Tomo kun punya orang favorit lain selain gw. Di mana, ada banyak hal yang Vlad bisa “kasih” ke Tomo yang gw nggak bisa. Pertama, mereka sama-sama laki, jadi obrolannya pasti lebih laki. Terus mereka juga hampir selalu barengan karna kerjanya juga barengan, lunch bareng setiap hari, dan lain sebagainya.

And I know it’s silly. I mean, I am not supposed to feel threatened, cos I also can provide things Vlad can’t provide for Tomo kun. Jadi selama sekitar dua-tiga jam selama Tomo lagi main di rumahnya Vlad, gue menenangkan diri dan bilang sama diri gw sendiri, it’s okay. It’s okay. It’s okay.

By the time Tomo selesai main, sekitar jam setengah sepuluhan, dia chat gw lagi ngabarin udah jalan pulang. Gw mulai nyusun kalimat gimana gue mau nyampein ke dia tentang perasaan gw. Baru deh abis itu gue kasi tau ke dia tentang perasaan gw. Gw bilang gini..

 

“I’m sorry actually I wasn’t very happy when I heard you’re going there.
Maybe I was jealous cos it was supposed to be your alone time, but then you chose to spend this rare free time with him.

But I spent time thinking, and I completely understand that you have 100000% rights to hang out with your friends. I am now calm already, just sorry I wasn’t very supportive. I’m glad you had a good time.”

 

Abis itu dia say sorry, dia bilang it was a sudden invitation, terus gw juga bilang sama dia untuk nggak perlu sorry atau ngejelasin, karna masalahnya ada di gw. Gw yang irian, gw yang cemburuan. It’s not his fault. The important thing is, he had fun. Itu yang penting buat gw.

Abis itu udah.. Nggak ada langkah penyelesaian / pencegahan lain, karna balik lagi tadi itu sebenernya gue yang salah. Ke depannya ya gue akan mencoba untuk nggak irian. Vlad is an awesome guy, dan gue bersyukur Tomo kun punya teman seperti Vlad. Mereka sama-sama orang hebat, dan gue ngerti orang hebat memang senengnya gaul sama yang sesama hebat juga. So instead of being jealous seharusnya gue mendukung persahabatan mereka. I need to value the people Tomo kun values.

Gituh.

 


 

 

Udah, itu aja cerita gue kali ini. Semoga dari cerita gue tentang tiga kejadian ini bisa keliatan gimana cara pikir gue yang bikin hubungan gue sama Tomo kun sangat stabil tanpa konflik-konflik besar yang berarti. Kalo semua cewek di dunia bisa punya pikiran yang secure dan tanpa drama, pasti hubungan percintaan juga bakal bisa lebih adem. Dan karna hubungan pacaran jarang berantem, kan jadi bisa lebih sering sayang-sayangan, lebih fokus manja-manjaan, dan lebih lovey-dovey gitu. Asik kan? 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s