Yellow Fever: Rasis, atau hanya preferensi?

Hola! Como estas?

Baru-baru ini gue diperkenalkan pada satu term baru, yaitu “yellow fever”. Bukan, itu bukan nama penyakit. Itu sebutan untuk (biasanya) lelaki kulit putih atau Kaukasian yang suka sama cewek Asia. Misalnya, bule yg sukanya sama cewek Chinese. Simpel, sebenernya, dan gue juga liatnya (meski gue nggak terbiasa tapi) santai aja sih. Cuman, ada aja reaksi cewek-cewek yang menentang. Contohnya:

Setelah gue research sedikit via mbah Google, ternyata banyak juga yang ngga gitu seneng dijadiin objek Yellow Fever. Salah duanya adalah tulisan ini, dan tulisan ini. Gue juga sempet nyari, kenapa Yellow Fever itu lebih nggak bisa diterima. Padahal, apa sih bedanya sama punya kecenderungan pilihan?

Contoh, kalo gw milih pasangan, gw pasti akan milih yg badannya lebih tinggi dari gw. Gw ga akan pacaran sama cowok yg lebi pendek. Sama aja nggak sih dgn orang-orang yg kena Yellow Fever itu? Mereka milih cewek Asia karna kulit yg lebih cantik, atau mata yg lebih sipit, dsb.

Selanjutnya, kalo gw milih pasangan, gw akan milih yg usianya lebih tua dari gw. 4, 6, 7, bahkan 9 tahun lebih tua sekalipun. Dengan harapan, karna usianya lebih tua dari gw jadi sikapnya juga bisa lebih dewasa dan pandangannya lebih dewasa juga. Nah, sama juga nggak sih sama yg kena Yellow Fever? Mereka milih cewek Asia dengan harapan ceweknya “submissive, slightly quiet, cutesy demeanor and influenced by a culture of more traditional gender roles which include female submissiveness.”

Ya… Gue ngerti sih sekarang jamannya yang cewek lagi pada gempar-gemparnya menyuarakan women empowerment. Tapi sejujurnya, sama dengan cewek-cewek yg nggak terima dijadiin object Yellow Fever karna mereka memilih jadi perempuan kuat dan perkasa dan tidak mau tunduk pada stereotype, … Ada juga gue. Cewek Asia yang justru memilih untuk punya nilai-nilai yg disebutin tadi itu. Bukan karna gw lemah dan tunduk pada stereotype, tapi karna gw memilih untuk jadi seperti itu. Ini pilihan gw, dan gw anggap dengan menggunakan hak pilih gw, gw pun sudah termasuk di-empowered.

Nah, mungkin ada juga nih cewek-cewek non-Asia atau chinese yg bilang, that’s still racist. Karna bagi orang-orang yg Yellow Fever, meski cewek non-Asia bisa juga memiliki kualitas-kualitas itu, tapi mereka tetep nggak akan bisa dapetin si cowok. Karna si cowok jatohnya rasis, maunya sama Chinese doank.

Ng… Nggak juga sih. Kalo menurut gw, kalo itu sih udah masuk preferensi. Misalnya, meskipun ada cewek yang bisa gagah dan tegar tapi tetep aja nggak bisa dapetin cowok yang gay. Karna si gay emang nggak suka cewek. Meskipun ada cowok yg kemayu atau lemah lembut, tetep aja nggak bisa dapetin cewek yang lesbi. Karna si lesbi emang nggak suka cowok.

Sama aja gitu. Meski ada non-Asian yg bisa lemah lembut gemulai submissive dan lain sebagainya itu, gak akan bisa dapetin cowok yang kena Yellow Fever. Karna emang di otaknya dia udah ke-set musti Asian. Terus kenapa yang kayak gitu dibilang rasis sih?

Gue gagal paham euy. :-/

One comment

  1. Kev d'Salvo · September 24, 2014

    Rasis atau nggak rasis hanya berlaku untuk hal-hal yang memang seharusnya diperlakukan umum (tanpa batasan superficial) dan adil.

    Misalnya: perekrutan pegawai, ujian mahasiswa baru, pencoblosan pemilu, hak mendapat layanan publik, dll.

    Dalam urusan cinta, semua itu tidak berlaku. Boro2 ras, apa nggak nyadar bahwa mayoritas orang ingin menikah dengan yang seagama? Gitu mo dibilang rasis semua?
    (Bagi minoritas yang sengaja –bukan terpaksa– ingin menikah dengan yang beda agama, gw anggap anomali. But it’s their choice.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s