Es Mucho Mejor Dar Que Recibir

Akhir-akhir ini gue lagi deket dengan seseorang, anggap saja namanya L. Gue dekat dengan dia because I’m helping him with a project. Eh.. Wait, gue kayaknya pernah cerita deh, di post-post sebelumnya, yang judulnya Don’t Lead Him On. Yep yep, L ini si L yang itu.

Hari Minggu kemarin gue nemenin dia ke sebuah tempat ibadah, karna project dia ada hubungannya dengan agama. Maka dengan hati kebas dan telinga gurita gue akhirnya duduk di deretan paling belakang di rumah ibadah itu, bareng L. Kebetulan ibadahnya dalam bahasa dewa dan bahasa Inggris, jadi gue nggak banyak translate dan lebih banyak duduk aja ngedengerin dan ngeliatin suasana sekitar.

Singkat cerita, sampailah kita pada acara pengumpulan dana. Tau kan? Bagian di mana satu kantong disebar sekeliling umat dan pada ngasih persembahan. Nah, ini yang mau gue bahas kali ini. Soalnya di bagian paling depan ruang ibadah itu ada ditempel kayak tulisan gitu, intinya kalau kamu memberikan yang terbaik maka kamu akan mendapatkan yang terbaik juga. Kalau kamu ngasih amal yang besar dan tulus kamu akan jadi cantik, sehat, panjang umur, kuat, dan bahagia.

Gue sempet translate kalimat itu ke L, dan dia nggak percaya. Dia kira gue bohong, karna katanya seakan-akan “give me money, you will be pretty, sounds like bullshit.” But I wasn’t lying, itu emang beneran kayak gitu kalimatnya, dan gue translate plek plek gitu kok. Hahahaha

Buat gue juga agak mengada-ada sih kedengerennya.. Meski gue sendiri sempet ikutan ngaish, tapi niatan gue bukan supaya gue cantik atau panjang umur atau gimana.

Nah, jadi, apa sih alasan seseorang memberi atau berderma?

Mungkin ada orang-orang yang percaya karma, yaitu dengan memberi banyak maka akan mendapatkan banyak. Mungkin ada yang percaya afterlife, yaitu dengan memberi maka akan dapat hidup baik setelah mati nanti. Mungkin juga ada yang percaya Tuhan, yaitu bahwa Tuhan melihat semua pemberian yang kita kasih, dan sebagai gantinya kita akan diberkati.

Tapi gimana kabar orang-orang faithless yang ngga percaya karma, ngga percaya afterlife, dan ngga percaya Tuhan? Why do we give?

Gue bukan atheis, tapi agnostic. And being an agnostic is pretty close to being an atheist. Gue melakukan hal-hal bukan karna gue percaya pada kehidupan extraterestial di luar sana, ataupun karma, atau apapun. Kalau gue memberi sesuatu, gue memberi karna gue berharap bisa melakukan perubahan. Mungkin gue bukan tipe orang yang bakal nyelidikin dulu ke mana gue akan nyumbang, dan apakah duit gue bakal beneran dipake untuk kebaikan atau nggak.

Mungkin gue termasuk orang yang pengen instan aja. Kasih duit, terserah deh duitnya diapain. Gue taunya pokoknya gue ngasih buat kebaikan, dan kalau ternyata dipake buat yang lain, ya, mo gimana. Gue juga udah ngasih duitnya kan. It’s no use.

Gimanapun juga, gue memberi dengan anggapan bahwa gue bisa melakukan sesuatu untuk dunia. Be the good force in this world. Help make a difference. Gue sering bilang sama diri sendiri, kopi seharga goban di Starbucks dijabanin, kok buat nyumbang senilai $5 aja pelit banget? Padahal dengan nyumbang, gue punya chance untuk ngebantu orang. Make this world a better place.

Gue nggak berharap gue akan dapat karma baik, atau dapat berkat, atau dapat lebih banyak dari yang gue kasih. No. Ketika gue ngeluarin duit untuk nyumbang, gue tau gue mengurangi milik gue untuk menambahkan milik orang lain. Gue tau gue gak akan dapat apa-apa in return, but I am totally okay with it. After all, giving is better than receiving, no?

One comment

  1. Kev d'Salvo · September 9, 2014

    “kalau kamu memberikan yang terbaik maka kamu akan mendapatkan yang terbaik juga” kalimat ini ada di gerejamu ya… dalam ajaran Islam juga dijanjikan seperti itu, lebih tepatnya “Sesungguhnya jika (kamu) bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim:7)

    Ajaran Islam lebih spesifik lagi bahwa saat kita memberi, haruslah dengan ikhlas, bukan karena motivasi tertentu:

    “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.”
    — QS. Mudatstsir:6

    Mungkin kamu bertanya, “ngapain gue bawa-bawa agama gue?” Komentar ini sekedar pendapat pribadi aku, dan kebetulan pendapat pribadi aku ini berasal dari ajaran agamaku. 🙂 Meski pendapat pribadi, boleh nyontek kan, ga harus original? 😀

    Referensi: https://www.facebook.com/notes/hendy-irawan/re-perbedaan-cinta-dan-sayang/10154451716305456

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s