Panasbung? Bukan. Saya Paha.

Catatan sebelum tidur, untuk sosok calon presiden yang jauh tapi terasa dekat.

Dear pak Jokowi,

Perkenalkan, saya salah satu anak bangsa yang selama ini selalu anti ikut-ikutan masalah politik. Saya tidak tau menau tentang apa yang terjadi di kementrian, undang-undang baru, atau pergerakan partai-partai. Saya tidak mau ambil pusing, ketika memperpanjang KTP saya bayar lima puluh ribu supaya nggak ribet. Ketika bikin passport saya bayar ratusan ribu supaya bisa nyelak antrian dan passportnya jadi lebih cepat. Saya tidak keberatan, bahkan tidak protes. Dalam benak saya, itu hal yang lumrah terjadi. Yah, memang begitulah pemerintahan kita.

Ketika pemilihan gubernur, sesungguhnya saya memilih bapak. Tapi bukan karna saya tau bapak itu siapa dan punya prestasi apa. Saya hanya lihat wakil gubernur bapak sipit-sipit, jadi saya kira bapak akan susah menang. Makanya saya coblos bapak. Dan ternyata bapak menang.

Perlu saya akui, setelah bapak jadi gubernur, saya banyak dengar berita baik tentang bapak. Bukan hanya di media masa, tapi juga dari teman-teman. Saya sendiri juga mengalami perbaikan, di antaranya banjir yang lebih cepat surut. Dulu, sekali banjir, surutnya bisa lima hari. Sekarang, kalau banjir, tunggu satu-dua jam airnya sudah turun. Meski memang kalau hujan lagi ya naik lagi airnya. Hehe.

Saya sering lewat waduk Pluit, dan sempat lihat ketika di sana mulai ada traktor-traktor. Setiap kali lewat sana saya lihat proses pembenahannya. Dan saya juga lihat bagaimana hasilnya sekarang. Dalam hati saya berpikir, bapak Jokowi dan pak Ahok, ternyata meski saya pilihnya asal-asalan, kerjanya tidak ngasal.

Saya mulai sering mencari berita, tentang pak Ahok dan bapak Jokowi. Saya dengar kabar tentang lelang jabatan. Saya baca tentang lurah Susan. Saya nonton vidio-vidio pak Ahok di youtube.

Saya juga banyak baca, semakin hari semakin banyak pekerjaan yang dilaksanakan. Sedikit demi sedikit, memang, tapi berjalan. Mungkin pelan karna segala sesuatu memang butuh proses. Tapi saya tau, saya merasakan, dan saya lihat sendiri bagaimana Jakarta tiba-tiba jadi punya harapan.

Karena harapan inilah, para media berbondong-bondong ikut meliput kegiatan bapak. Karna harapan ini juga, para pengusaha Tiong Hoa berbondong-bondong patungan membelikan truk sampah untuk Jakarta. Karna harapan ini juga, nenek saya menangis terharu ketika menonton bapak mengumumkan akan maju menjadi capres. Saya percaya, karna harapan ini jugalah, GBK menjadi lautan orang ketika konser salam dua jari. Karna harapan yang sama juga, selama berapa minggu kemarin, saya dan keluarga sibuk nonton debat capres.

Dan, karna harapan ini jugalah, saya yang dulunya pesimis dan selalu ikut pemilu hanya sekedar untuk dapat promo dari tempat makan, tahun ini, tanggal 9 Juli nanti, saya akan menggunakan hak suara saya sungguh karna saya mendukung penuh bapak menjadi pemimpin saya dan Indonesia.

Sayangnya, meski saya memilih bapak, tidak akan serta merta berarti bapak akan menang. Saya tau bapak punya saingan yang kuat dan sulit ditaklukkan. Bapak juga didera banyak fitnah dan tudingan tidak berdasar, oleh media-media yang terbutakan dalam visi mereka untuk membutakan rakyat. Sekarang saya akan jujur, pak, saya tidak yakin 100% kalau bapak akan menang.

Karna saya tidak yakin bapak pasti akan menang, makanya saya ikutan kampanye, meski hanya lewat sosial media. Saya berdialog dengan orang tua saya dan meyakinkan mereka agar tidak takut kerusuhan bila bapak menang. Sebaliknya saya mendorong teman saya untuk pulang kampung dengan ancaman akan kerusuhan, tapi juga sekalian agar dia mencoblos bapak. Hehe. Saya bicara dengan saudara-saudara saya yang saya tahu selalu golput, dan saya hasut mereka untuk gunakan hak pilih mereka tahun ini. Teman-teman saya yang masih bingung pun saya luruskan kabar miring tentang bapak. Saya buatkan avatar “stand on the right side” untuk teman-teman saya sesama pendukung bapak.

Saya berusaha untuk memenangkan bapak melalui sosial media saya, sampai-sampai saya disebut sebagai panasbung. Mereka tidak tau saya ini sesungguhnya bukan panasbung, tapi paha. Pasukan harapan.

Sayangnya memang influence saya tidak sebesar FPI, PPP, Fadli Zon, atau tabloid Obor Rakyat dan Sapu Jagad. Meski demikian, saya berjanji berbuat sebisa saya untuk bapak.

Nah.

Saya tidak minta bapak berterimakasih atas usaha saya. Saya tidak butuh terimakasih dari bapak, saya tidak butuh surat balasan atau perhatian sekalipun. Saya hanya akan lanjut ke topik selanjutnya yang mengusik benak saya.

Bapak pasti tau kan, orang-orang yang seperti saya ini ada banyak. Yang merelakan waktunya untuk mati-matian membela bapak, baik di Sosial Media maupun di lingkungan sosial sungguhan. Bapak tau juga kan, banyak orang ikut patungan demi harapan, ke rekening gotong royong. Bahkan para pemulung juga ikut patungan sebesar Rp.2.000.000,- loh pak.

Saya tidak terbayang rasanya jadi bapak. Betapa besarnya tanggung jawab yang bapak pikul. Setiap sen yang terkumpul, setiap waktu yang terluang, semua huruf yang terketik untuk mendukung bapak, di semuanya itu terkandung doa dan harapan pak. Harapan bahwa bapak, yang selama ini bekerja untuk Solo dan Jakarta, bisa bekerja untuk Indonesia.

Saya yakin sekali bapak tidak akan berani tidak bekerja dengan maksimal. Saya yakin bapak mengerti tanggung jawab ini, karna bapak kelihatannya punya hati nurani… Tapi jangan takut pak, tentunya setelah selesai pemilu ini, kalau bapak menang, saya akan tetap mendukung bapak dengan cara turut membantu sebisanya. Bayar pajak, atau tidak nyogok, atau budayakan antri, atau sekedar buang sampah pada tempatnya juga, saya akan lakukan karna mendukung bapak dan usaha bapak dalam memperbaiki Indonesia. Inilah revolusi mental itu menurut saya pak.

…Kalau dibilang saya tidak rela bapak pergi dari Jakarta, sesungguhnya saya tidak rela. Saya ini mahluk egois pak. Tapi saya ingin Indonesia jadi negara maju, saya ingin merasa bangga pada dunia kalau saya bilang saya orang Indonesia. Saya tidak ingin malu melihat pemerintah malas yang ketahuan tidur dan ketawan nonton porno ketika sedang rapat. Saya tidak ingin menertawakan pemerintah lagi. Karna itulah saya mendukung bapak untuk naik ke posisi yang lebih tinggi.

Ngomong-ngomong, saya ini ateis pak. Tapi untuk bapak, saya akan berdoa. Saya tidak percaya doa dapat membantu bapak, tapi hanya itu yang bisa saya lakukan untuk bapak sekarang. Makanya saya akan berdoa.

Pak, saya doakan bapak selalu diberkati dan dilindungi Yang Maha Kuasa. Saya berdoa, supaya meski bapak diterjang badai fitnah sekalipun, akan selalu ada tangan-tangan kuat yang menopang bapak. Bersama mendukung bapak. Berdiri bersama bapak dan menguatkan bapak. Saya berdoa, semoga apabila bapak terpilih menjadi presiden, maka bapak akan diberi pencerahan dan dukungan penuh dari Yang Maha Kuasa. Saya berdoa semoga bapak dibukakan pikirannya, diluruskan jalannya yang berliku-liku, dan dituntun untuk menuntun bangsa raksasa ini.

Saya juga berdoa, semoga semangat yang sudah bapak percikkan ini, tidak serta-merta mati setelah pemilu selesai. Baik bapak menang maupun kalah, saya harap Revolusi Mental ini akan terus hidup, tidak hanya di Jakarta tapi juga di Indonesia. Saya berdoa semoga seluruh insan, cepat ataupun lambat, akan terberkati oleh Efek Jokowi.

Kalau sampai bapak kalah tanggal 9 Juli nanti, saya berdoa semoga bapak Prabowo tidak seburuk apa yang saya dengar. Saya juga berdoa semoga bapak Prabowo tidak akan menghapus pemilihan langsung meski beliau tidak setuju dengan pemilihan langsung. Karna, bila pemilihan langsung tidak dihapus, maka lima tahun yang akan datang, saya akan mati-matian lagi mendukung bapak untuk maju jadi Presiden.

Tapi, menang ataupun kalah bapak nantinya, ijinkan saya berterimakasih, pak. Karna bapak sudah memberikan Jakarta dan Indonesia sebuah harapan. Karna bapak telah bekerja beneran, dan pekerjaannya perlahan tapi pasti terasa di Jakarta. Terimakasih karna bapak menginspirasi saya dan orang-orang di sekitar saya untuk tiba-tiba jadi ahli politik. Terimakasih karna bapak sudah menggerakkan hati para relawan Jokowi untuk meneruskan semangat Revolusi Mental. Terimakasih karna bapak sudah menyanggupi jadi gubernur Jakarta, juga menyanggupi jadi presiden.

Saya bangga punya bapak sebagai pemimpin Jakarta dan akan lebih bangga lagi bila bapak beneran jadi presiden nanti. Terimakasih untuk harapan yang sudah bapak tebar. Semoga sebagai gantinya, bapak diberkati melimpah ruah oleh Yang Maha Kuasa.

Salam dua jari, pak.

One comment

  1. Kev d'Salvo · July 8, 2014

    Woww… surat terbuka 🙂

    Siap, siaaaaaaaaaaap…. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s